Hampir Gila!

Hampir Gila!


Saya mempunyai seorang teman yang sudah seminggu ini selalu marah-marah tanpa sebab. Teman saya ini kebetulan adalah seorang pengajar atau lebih tepatnya pembimbing anak-anak kecil. Dan saat ini adalah hari kedua di mana dia memilih untuk mengambil cuti. Apa yang sebenarnya terjadi? Yang saya tahu, dia adalah seorang penyabar dan jarang marah.

“Kesabaran itu memang ada batasnya dan saya harus bertindak,” katanya dalam bincang sore.

“Dengan marah-marah? Apakah itu solusi?”

“Setidaknya membuat beban hatiku berkurang.

“Tapi kau membuat beban baru di hati keluargamu.”

“Apa yang harus saya lakukan? Saya hampir gila melihat suami saya berganti wanita tiap hari!”

“Sejak kapan suamimu begitu?”

“Memang sudah wataknya dari dulu, bahkan sebelum kami menikah.”

“Buat apa kamu menikahi denganya jika kini menyesalinya?”

Teman saya hanya terdiam dan mulai merenungi resiko yang sudah sewajarnya dia hadapi saat dulu memutuskan untuk menikah dengan suaminya. Ketika sudah dipersatukan dalam ikatan pernikahan, maka baik atau buruk sifat dan sikap pasangan kita, kita harus bisa menerimanya dengan penuh kesabaran.

Oleh sebab itu, kenalilah lebih dalam pasangan kita sebelum kita memutuskan untuk hidup dengannya. Jika ada hal-hal buruk yang tidak menunjukkan perubahan ke arah lebih baik, tidak ada salahnya jika mulai ditinggalkan, sebab Tuhan tidak akan pernah salah memberi pendamping.
Bagikan Artikel:    Facebook Twitter Google+