Tuhan Hanya Menggoda

Tuhan Hanya Menggoda


"Dan Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini, hanya untuk meninggalkan kita." Kata-kata ini adalah mantra sakti bagiku. Pengingat dan penegas, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku, adalah atas izin-Nya dan pasti membawaku pada suatu kebaikan.

Satu tahun lebih tiga bulan aku menyandang gelar sarjana. Selama itu pula, aku harus mengakui, aku belum berhasil bekerja. Pergi dari satu tes ke tes lain. Menjajal peruntungan di kota yang satu ke kota lainnya. Namun stempel pengangguran itu masih tetap kubawa. Ada satu fase dimana aku benar-benar frustasi. Merasa luar biasa malu, sebisa mungkin menghindari aktivitas sosial, hanya karena tidak punya nyali untuk menjawab sebuah pertanyaan, "Kerja dimana?" Fase dimana aku benar-benar lelah secara mental, saat melihat usaha maksimal yang kulakukan, seperti air yang menguap, hilang begitu saja. Fase dimana aku merasa sakit hati, saat melihat orang yang tidak berusaha sama sekali dan bersikap semaunya malah mendapat posisi yang aku inginkan. Fase dimana hatiku remuk redam menahan amarah dan kecewa, merasa tidak dihargai, saat tiga lamaran sekaligus di suatu lembaga, pada akhirnya tidak dianggap, hanya karena aku bersaing dengan "titipan orang dalam." Fase dimana aku menjadi tokoh antagonis dalam hidupku sendiri, yang membenci orang lain atas keberhasilan hidupnya. Aku seperti dipermainkan oleh roda nasib. Bagaimana tidak? Selama menempuh pendidikan, aku sudah terbiasa mendapat peringkat atas. Bahkan saat lulus kuliah, aku mendapat nilai tertinggi di program studiku. Aku seperti dipermainkan, karena teman-temanku yang berada di bawahku sudah mendapat pekerjaan, sementara aku masih berjuang.

Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya karirku juga mulus, seperti kata orang-orang tua dulu, "Belajar yang pintar di sekolah, supaya gampang dapat kerja." Aku seperti sebuah pengecualian, sebuah anomali. Perasaanku kacau, malu, sedih, frustasi, lelah, semua bercampur menjadi satu. Rasanya ingin menghilang saja ditelan bumi.

Sampai suatu saat, aku menyadari, aku tidak bisa terus menerus berkubang dalam kesedihan. Aku harus merenangi kegalauan ini supaya tidak tenggelam. Pikiran ini membuka mataku untuk memandang kegagalanku dari kaca mata yang berbeda. Aku menganggap Tuhan hanya sedang bercanda, Dia sedang menggodaku. Aku yang dulu selalu serius dan ambisius sedang dilatih-Nya untuk bisa bersikap lebih santai menikmati hidup. Dia sedang memberiku hadiah waktu luang banyak, supaya aku semakin mengenal kemampuan diriku dan makin akrab dengan diri-Nya. Lagi pula, Tuhan sudah membawaku mencapai banyak hal, Dan tak mungkin Dia hanya jauh-jauh membawaku ke titik ini hanya untuk meninggalkanku? Untuk mengisi waktu, aku akhirnya merintis usaha bersama temanku. Meski, aku belum berhasil mendapat pekerjaan, perasaanku kini jauh lebih baik. Dia hanya menggodaku saat ini, dan Aku percaya, Dia tetap dan akan selalu mengurusku.

Kisah Inspiratif oleh Anggita

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »