Sepotong Cita-Cita Dalam Tempe Kedelai


Sepotong Cita-Cita Dalam Tempe Kedelai

Namaku Sariyati, biasa dipanggil Sari. Ya, namaku sangat sederhana, sesederhana kehidupan orang tuaku saat aku dilahirkan. Ibuku bernama Sariyah dan bapakku bernama Ponco Wijoyo yang punya nama kecil Sukarman.

Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, adiku laki-laki. Saat aku lahir, menurut cerita  biyung  panggilanku kepada ibu, bapakku kala itu menyambut dengan tangis yang tidak henti-henti. Terharu? Ya pasti, namun ada hal yang sungguh mengiris hati saat biyungku bercerita, ternyata bapakku menangis karena saat aku lahir bapak tidak punya uang sedikitpun. Maklum, sejak menikahi biyungku, kedua orang tuaku hidup menumpang di tempat saudara dan bekerja sebagai buruh tani.

Upah yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari. “Bapakmu nangis nduk, mergo ra duwe duit kowe lair. (Bapakmu nangis nduk, karena tidak punya uang saat kamu lahir)”.  Itulah cerita dari biyungku yang beberapa kali aku dengar dan selalu membuatku berkaca-kaca. Aku tidak tahu jika itu terjadi pada aku dan suamiku. Punya anak tidak ada uang, bagaimana beli susu? Baju? Popok? Makanannya? Dan banyak hal yang aku pikirkan.

Tapi ternyata saat itu biyungku tidak menangis. Dengan tenaga yang masih tersisa usai melahirkan, wanita yang sangat aku cintai itu menumbuk beras yang tersimpan di wadah kaleng. Beras itu selanjutnya dibuat makanan yang di tempatku diberi nama ‘tumtuman’ atau ada juga yang biasa menyebut ‘nogosari. Hidangan itulah yang selalu menemani  tetangga-tetangga yang datang untuk ‘ngendong’ atau jagong bayi  ke rumah orang tuaku yang kala itu beratapkan genteng tua, berdinding gedheg (anyaman bambu) dan berlantai tanah.

Seiring waktu aku terus tumbuh dan  masuk ke TK. Saat itu tahun 80-an belum ada PAUD seperti sekarang. Akupun di usia 5 tahun mempunyai adik laki-laki. Aku teringat  waktu itu  menyaksikan  biyungku berjuang tanpa bantuan  bidan atau tenaga medis seperti sekarang. Keringat dan air mata serta jerit kesakitan bercampur jadi satu. Terpatri jelas di ingatanku saat itu aku yang  tidak tahu apa-apa, hanya bisa terus memandangi biyungku dan  ikut meneteskan air mata. Tidak tega...

Alhamdulillah adikku lahir selamat.

Seiring berjalannya waktu, aku sering mendengar orang tuaku berbicara serius, menyangkut masa depan kami anak-anaknya. Mereka berpikir jika hanya buruh selamanya dan tidak ada lahan sawah, bagaimana nasib kami kelak?

Saat itu orang tuaku memutuskan berjualan tempe kedelai. Mereka  pertama ambil dari orang untuk dijual lagi atau jadi ‘loper’. Setelah dirasa cukup pengalaman, mereka membuat sendiri tempe kedelai, tentu dengan takaran yang tidak  banyak. Mulai di bawah 5 kilogram.

Itupun kadang  tidak habis dijual di pasar  kecamatan yang jaraknya dua kilometer  dan ditempuh jalan kaki dari rumahku. Maklum orang tuaku tidak punya sepeda atau kendaraan lainnya. Untuk menghabiskan dagangan yang ada  orang tuaku harus berjualan keliling dari rumah ke rumah. Kalau sisa sedikit biyungku yang berkeliling  sekitar pasar dan kantor kecamatan yang persis di seberang pasar sambil menggendong tempe. Tapi kalau sisanya cukup banyak, maka bapakku yang berkeliling sembari dipikul. Jangan ditanya, panas, hujan, peluh, haus dan lapar pasti menjadi irama kehidupan orang tuaku.

“Tapi biyung tidak pernah jajan di pasar. Paling hanya minum sama makan tiwul atau getuk sedikit. Kalau jajan, keuntungnya tidak bisa ditabung buat sekolah kamu,” begitu jawab biyungku dalam  bahasa Jawa setiap kali aku tanya  kenapa tidak suka makan di warung yang banyak berdiri di  pasar.

Hari semakin hari, jualan orang tuaku bertambah banyak, karena pelanggan juga bertambah. Kedelai yang diolah juga terus bertambah hingga lebih dari 50 kilogram. Saat itulah buah ketekunan, doa, kerja keras dan hidup hemat yang dilakukan ibuku berbuah manis. Mereka berhasil membeli tanah kendati ditambah berhutang sedikit pada saudara untuk menutupi kekurangan uang tanahnya. Selama ini memang orang tuaku bikin rumah sederhana  numpang di tanah milik saudaranya yang lain.

Setelah beberapa tahun tanah itu hanya ditanami singkong, orang tuaku membeli material dan membangun rumah berdinding batu-bata. Aku ingat waktu kelas VI SD pindahan rumah. Hatiku berbung-bunga. Kendati rumah itu belum diplester, lantainya tanah, jendela dan pintu juga belum sempurna tapi bagiku itu adalah surgaku.

“Kamu harus rajin sekolah, kalau tidak  rajin dan nilaimu jelek, bapak sama biyung bingung mau menyekolahkan kamu dimana. Kalau bisa masuk negeri ya nduk,” pesan bapakku saat aku sedang belajar menjelang Ebtanas (UN  kalau sekarang). Kata-kata itu melecutku, sehingga aku mendapat NEM yang cukup untuk masuk ke SMP negeri satu-satunya di kecamatanku kala itu.

Begitupun saat kelas III SMP dan kelas III SMA bapakku selalu bilang harus rajin belajar, banyak berdoa, sholat dan ngaji.  Tekad  yang kuat akhirnya mengantarkanku lulus SMA negeri favorit di kabupatenku. Dan akupun memilih melanjutkan kuliah ke Yogyakarta.

Biaya yang digunakan untuk masuk kuliah dari tabungan  orang tuaku yang dikumpulkan sejak aku kecil ditambah menjual simpanan padi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil  jualan makanan di sawah yang dilakukan biyung usai pulang dari jualan tempe di pasar. Begitu  lulus kuliah aku bekerja di sebuah surat kabar hingga saat ini.

Saat menikahkanku beberapa tahun lalu dengan seorang prajurit TNI AD, biyungku bilang, “Kalau biyungmu tidak ngirit, tidak kerja keras, putus berdoa, kamu tidak akan bisa kuliah. Karena banyak teman-temanmu yang ekonominya sama dengan orang tuamu, anaknya hanya lulus SD atau SMP,” kata biyungku.

Ya, kata-kata biyungku benar adanya. Tanpa tekad, kerja keras,  dan doa tulus tidak mungkin aku bisa bersekolah hingga mengenyam perguruan tinggi. Akupun teringat, sering saat terbangun malam karena mules kencing dan  melewati tempat sholat kudapati ibuku sedang sholat dan berdoa dengan khusyuk.

Kini akupun menerapkan nilai-nilai itu kepada anak-anakku. Aku berharap dengan hidup hemat, kerja keras, pantang menyerah,  dan berdoa, cita-cita anakku kelak juga akan tercapai.

Kisah Inspiratif oleh Sariyati

Ikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif DI SINI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »