Satu Senyuman untuk Senyuman Lainnya


Satu Senyuman untuk Senyuman Lainnya

Hujan tidak pernah luput dengan memori kita. Ia berbaik hati meresonansi semua ingatan pada rintiknya yang sendu. Membantu kita untuk menguat asa dengan segala sulit yang kembali terasa.

Petrikor selalu membuatku mengingat bagaimana masa kecil kulalui. Berpindah tempat karena harus mengikuti bapak melanjutkan studinya dengan bantuan biaya dari pemerintah. Setahun di Solo, tahun berikutnya di Jakarta.

Ibu yang memilih mengabdikan diri untuk mendidik anak-anaknya, selalu dengan sabar dan sederhana membahagiakan suami dan anak-anaknya. Menyuapi makan tidak pernah luput, menyiapkan pakaian, membelajarkan menghargai kebersamaan keluarga, dan melakukan semua pekerjaan dengan kedua tangannya sendiri.

Bapak yang selalu melakukan apapun agar anak dan istrinya senang, meski tidak punya uang, membelajarkan bagaimana dongeng itu mendidik karakter anak dengan baik. Tidak pernah luput satu malam pun tanpa dongeng bapak sebelum tidur. Kadang diajaknya mendeklamasikan ‘Aku’ milik Chairil Anwar.

Rintik hujan mengingatkan bagaimana keluargaku—kami—dulu tertawa. Meski harus berdesakkan naik motor berlima. Meski harus membagi martabak manis menjadi kecil-kecil. Meski harus berjalan puluhan kilo untuk tetap dapat sekolah. Rintik hujan mengingatkan bagaimana ibu pergi, meninggalkan bapak, meninggalkan rumah. Meninggalkan semua kenangan manis penuh dengan air mata.

Rintik hujan mengingatkan kepada malam ibu melangkah tanpa bapak berusaha menahannya, sementara kami anak-anaknya dilarang untuk mengejarnya, istrinya.

Rintik hujan mengingatkan kepada hari-hari dimana kami menjalani hidup tanpa ibu. Tanpa seorang tempat menyandarkan semua keluhan dan menceritakan kebahagiaan.

Rintik hujan kemudian menjadi saksi, bagaimana bapak berjuang menghidupi kami seorang diri. Mengabaikan sedih. Mengabaikan kepayahan. Mengabaikan kemalangan. Mengabaikan dirinya sendiri.

Rintik hujan menjadi saksi, bagaimana bapak menjadi hamba yang taat pada Tuhannya. Tetap tersenyum meski pahit, meski harus darah yang mengalir, dan meski esok tak lagi akan berjumpa. Sebuah pesan tanpa kata bagi anak-anaknya: tiada yang lebih berharga dari sebuah senyuman, ibarat telaga bagi sang Penggembala di Gurun Sahara. — Rintik hujan menolak lupa dua puluh tahun bapak menjadi Superman bagi anak-anaknya.

Kisah Inspiratif oleh Irsa Byakta

Ikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif DI SINI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »