Mengagumi Sahabat


Mengagumi Sahabat

Namanya Ratna Ayunda,  sahabat kecilku yang begitu hebat di mataku. Kira-kira sudah hampir 13 tahun persahabatan ini terjalin. Ya, 13 tahun mungkin bukanlah waktu yang singkat, kami sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SD. Bahkan dari Ratna gendut sampai sekarang dia langsing dan amat sangat cantik. Ratna mempunyai 2 orang kakak laki-laki (Mas Fajar dan Mas Arman) dan satu orang adik perempuan (Ara), sebenarnya dia mempunyai seorang kakak perempuan (Teh Ria) tapi karena typus kakaknya harus pergi terlebih dahulu saat dia masih kecil. Bapak dan mamahnya pun aku sangat mengenalnya, bahkan bapaknya Ratna sangat akrab denganku.

Dulu saat kami SD, setiap hari libur kami selalu menyempatkan untuk bersepeda mengelilingi desa. Terkadang aku yang gantian membonceng Ratna yang saat itu badannya masih ndut, tak jarang Ratna diejek oleh beberapa orang yang melihat kami. Tapi tak pernah aku melihat ada raut kemarahan di wajah Ratna entah dia memang begitu kuat atau mungkin perasaan itu ia sembunyikan di balik wajahnya yang selalu ceria itu.

Kami tumbuh menjadi gadis remaja bersama, sayang saat duduk di bangku SMP kami tidak satu sekolah. Sebenarnya saat itu kami mendaftar di sekolah yang sama tapi karena permintaan bapaknya, Ratna tak jadi sekolah bersama denganku yang jaraknya sekitar 30 menit dari rumah. Meskipun begitu setiap aku ada waktu luang aku selalu sempatkan untuk mengunjungi rumahnya, karena rumahnya tak jauh dari rumahku. Hampir setiap sore kita jalan-jalan ke pasar entah untuk membeli sesuatu atau sekedar untuk berjalan-jalan saja.

Hingga suatu hari, aku mendengar kabar bapak Ratna meninggal dunia. Sungguh saat itu aku amat sangat merasa kehilangan, karena aku memang benar-benar dekat dengan beliau. Setiap aku datang ke rumah Ratna, pasti beliau selalu meledekku padahal beliau sudah tahu setiap aku ke rumahnya pasti yang kucari tak lain dan tak bukan adalah Ratna tapi beliau selau memanggil kakaknya Ratna, Mas  Arman. Mas Arman berbeda 2 tahun denganku. Aku tahu saat itu Ratna sangat terpukul dengan kepergian bapaknya, aku sering menemani Ratna untuk mengunjungi makam bapaknya dan mendoakan beliau.

Waktupun berlalu begitu cepat. Ratna seorang gadis SMP, kini sudah mulai memikirkan kehidupan yang seharusnya belum dapat dipikirkan oleh gadis seusianya. Tapi mau bagaimana inilah kehidupan yang harus ia jalani, mamanya sakit-sakitan semenjak kepergian bapaknya. Mau tak mau Ratna harus mampu menggantikan tugas mamanya. Bahkan dia pun sudah belajar mengatur keuangan. Bisa kalian bayangkan betapa berat beban hidup yang harus ia pikul untuk gadis seusianya. Ia harus memikul semua itu karena kini di rumah hanya ada dirinya, mamahnya dan adik perempuannya. Mas Fajar sudah bekerja dan kuliah di ibukota, sementara mas Arman bersekolah di Bandung.

Semenjak itu, badan ratna tak lagi ndut seperti dulu bahkan ratna kini mulai langsing dan semakin cantik. Mungkin karena beban pikiran, tapi sungguh aku tak pernah melihat kelelahan sedikit pun di wajahnya. Dia begitu hebat dimataku, dia begitu hebat menyembunyikan kelelahannya di hadapan manusia.

Kini kami sudah SMA, pertemuanku dengannya tak sesering saat kami SMP. Kini kami bertemu hanya seminggu sekali atau bahkan tak jarang sebulan sekali. Kalau hari minggu aku sempatkan mengunjungi rumahnya, untuk bertemu dengannya dan kadang juga membantu adiknya untuk belajar karena saat itu adiknya baru duduk di bangku SD.

Ternyata waktu kian cepat berputar dari yang kami duga, saat itu aku libur semester kenaikan kelas (kami akan naik ke kelas 3 SMA). Aku sedang berlibur di rumah orang tuaku di Bekasi. Pagi-pagi aku menerima sms dari Ratna yang mengisyaratkan bahwa mamanya kini sudah tidak ada. Sungguh saat itu aku tak dapat berkata-kata. Aku mampu merasakan apa yang Ratna rasakan. Segera kubalas sms Ratna itu, tapi Ratna tak kunjung membalas smsku. Akhirnya kuhubungi temanku yang juga temannya Ratna, untuk mengetahui keadaan Ratna. Sungguh aku tak bisa berhenti memikirkan bagaimana keadaan Ratna saat itu. Bodohnya aku, karena aku tak ada di dekatnya saat itu. Nenekku pun mendatangi rumah Ratna, nenek bilang Ratna terlihat begitu tegar. MasyaALLAH, Ratna kau begitu hebat di mataku aku sangat menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

Kejadian ini benar-benar tak terduga begitu cepat satu persatu Tuhan mengambil orang-orang yang Ratna sayang. Tapi aku yakin semua ini pasti ada maksudnya, ALLAH akan memberikan kado terindahnya kepada sahabatku Ratna , aku yakin itu.

Hingga kelulusan SMA pun tiba, tak disangka Ratna diterima di perguruan tinggi negeri di daerah Purwokerto dan mendapat beasiswa. Mungkin ini adalah kado terindah itu, bahkan kini Ratna tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan kuat di mataku.

Tak cukup sampai di sini kepedihan yang dialami oleh Ratna, setelah beberapa bulan ia kuliah ia mendengar kabar yang begitu menyayat hatinya. Mas Arman meninggal. Allahu Robbi, begitu berat cobaan yang Engkau berikan kepada sahabatku Ratna, apakah Engkau begitu menyayanginya? Aku mendengar kabar itu dari tetanggaku yang sms padaku, menanyakan kebenaran apakah Mas Arman benar meninggal atau hanya kabar burung yang tak terbukti kebenarannya saja. Karena saat itu aku sudah kuliah di Bekasi,  aku segera mencari tahu kebenaran hal itu. Langsung ku-sms Ratna tapi tak kunjung ada balasan darinya. Aku sms temanku yang mengenal Ratna dan ia membalas bahwa kabar itu benar. Saat itu tubuhku langsung lemas, aku langsung jatuh terduduk tak bisa berucap apa-apa lagi.

Ratna, darimu aku belajar banyak hal. Kau adalah seseorang yang menginspirasi hidupku bahwa kehidupan tak  selamanya bahagia terkadang kita juga harus merasakan sebuah kesedihan yang mungkin siap tak siap kita harus menerimanya tapi hal itu tak mengaruskan kita ntuk lari dari kenyataan itu.  Dari kekuatan hatimu, ketegaran hatimu, dan keceriaanmu, aku belajar sebuah kehidupan. Kehidupan yang bukah hanya mengenal senang tapi susah pun kita harus jalani apapun keadaannya. Kini tumbuhlah menjadi gadis hebat yang selalu kukagumi selama aku bersahabat denganmu. Aku yakin ALLAH sedang mempersiapkan kado terindah bahkan lebih dari indah untukmu. Tersenyumlah selalu, aku adalah sahabat yang mengagumimu dalam diam ini.

Kisah Inspiratif oleh Nurul Hikmah

Ikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif DI SINI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »