Matematika Hidup

Matematika Hidup


Matematika. Setiap orang dapat merespon dengan ekspresi yang berbeda ketika mendengar kata itu. Bagiku, matematika adalah hal yang menantang, penuh dengan persaingan, kecepatan, ketepatan, logika, imajinasi, dan kepuasan tinggi ketika mampu membuat bangga Sang Guru killer yang hampir tidak pernah memuji orang lain. Matematika adalah mata yang terbuka. Matematika adalah harga diri.

Tapi itu berubah saat seragamku berubah menjadi abu-abu. Badai menerpa jagad mata pelajaranku. Nilai ulangan harian di mata pelajaran matematika yang pertama adalah angka yang mampu membuatku tertawa sekaligus terdiam membisu. Angkanya adalah 3 dan 5 yang dirangkai dari kiri ke kanan. Bisa dibayangkan betapa hati seperti cermin yang jatuh berhamburan. Teman-teman dan aku sempat membentuk kelompok belajar dimana kami saling menutori pelajaran-pelajaran yang kami anggap momok. Tapi tampaknya juga tak banyak membantu dalam mata pelajaran yang satu itu.

Singkatnya, semua itu berlanjut sampai mendekati kelulusan. Ibuku mengetahui kesulitanku, dan memintaku untuk lebih sering pulang. Aku dipertemukan dengan seorang guru tutor matematika yang juga teman ibu. Beberapa rambutnya tampak telah memutih, dengan hidung mancung, dan memiliki seorang istri dengan kerdung lebar. Setiap dua malam dalam sepekan aku berguru ke rumah beliau. Minimal jangan sampai kelulusanku tersendat hanya karena mata pelajaran yang satu ini.

Beberapa bab yang mudah dibayangkan seperti dimensi ruang, bagiku masih bersahabat. Beberapa yang lain masih menggerayangi pikiranku, termasuk bab turunan fungsi. Sampai mendekati UNAS, bab itu masih belum bisa kuterima karena belum dapat membayangkannya. Mungkin saat itu metode belajarku masih terlalu monoton, terlalu memaksakan segala sesuatu untuk bisa dibayangkan.

Malam merayap seperti selimut yang menyelubungi langit dengan kesejukan. Malam itu adalah pertemuan terakhirku dengan Sang Tutor sebelum menghadapi UNAS. Ketika itu, angka-angka bab turunan fungsi kembali membuatku tak berkutik. Beliau dengan sabar menanti kepahamanku, sedangkan aku merasa tidak tenang. Lalu, di sebuah sudut waktu, kuutarakanlah sebuah pertanyaan putus asa kepada beliau.

“Pak,” kataku memulai pertanyaan itu.

“Ya?” sambut beliau sambil menghadapkan seluruh badannya kepadaku, sungguh-sungguh.

“Sebenarnya, apa yang bisa kita petik dari pelajaran ini di kehidupan sehari-hari?” tanyaku dengan nada pasrah, tetapi serius. Beliau pun terdiam, tetapi tidak tampak sedikitpun gurat putus asa di mukanya.

Beliau mengalihkan pandangan ke tulisan-tulisan di papan dan berpikir. Aku juga mencoba berpikir. Detikan jam dinding terdengar di telingaku, sedangkan suara putri-putri beliau yang biasa berlarian di luar seakan lenyap.

“Em!” tiba-tiba beliau berseru. Jemarinya lincah menggoreskan spidol di papan. Maka tampaklah tulisan ini:

f(x) = 2x4 – 5x + 1
f ‘(x) = 8x3 – 5

Aku memperhatikan. Disusul dengan munculnya tulisan lagi di bawahnya:

f(x) = 2x4 – 5x + 10
f ‘(x) = 8x3 – 5

Aku membandingkan. Dan tangan beliau menulis lebih panjang lagi:

f(x) = 2x4 – 5x + 999993924565859508746425252524
f ‘(x) = 8x3 – 5

“Aha….!” Aku tiba-tiba kagum dan terperanjat dalam dudukku. Mereka (fungsi-fungsi itu) berbeda, tetapi ketika diturunkan terhadap x maka nilainya menjadi sama. Karena x.

“Ya. Berapapun angka yang tidak mengandung x, jika diturunkan terhadap x maka tidak akan ada artinya,” ucap beliau.

“Tetapi apakah x itu dalam kehidupan sehari-hari, Pak?” tanyaku sambil mencoba menerka. Dadaku berdebar antara ragu dan tidak tahu, tetapi juga ingin mengetahuinya sebelum beliau menjawab.

“IKHLAS,” jawab beliau. Aku terkesima. Oh, ya, ikhlas…

“Tanpa ada keikhlasan di dalam setiap hal yang kita lakukan, maka sia-sialah amal kita. Jadi.. niat dan keikhlasan harus senantiasa kita bawa dalam kehidupan kita,” tandas beliau.

Akhirnya, hasil UNAS sudah diumumkan. Meski nilai matematikaku tidak jauh dari standar kelulusan, tetapi aku lulus. Sesuai dengan bakat dan minat yang kutelusuri selama menjalani tiga tahun masa SMA, aku melanjutkan studi di jurusan biologi murni, di sebuah universitas terkemuka di kota metropolitan nomor dua di Indonesia.

Memang, dalam fase hidup kita pada waktunya akan ada kenaikan tingkat sehingga kemampuan kita -secara langsung atau tidak langsung, secara ekstrim maupun halus- menjadi lebih spesial di suatu bidang daripada bidang yang lain. Di situlah Tuhan menguji, apakah kita bersyukur terhadap kelebihan yang Dia beri, ataukah kita sibuk mengutuk kekurangan. Yah, lebih dari itu, tanpa ada keikhlasan di dalam setiap hal yang kita lakukan, maka sia-sialah usaha kita. Jadi, niat dan keikhlasan harus selalu kita bawa dalam kehidupan kita. The show must go on. Iman adalah mata yang terbuka sebelum datangnya cahaya.

Kisah Inspiratif oleh Diena Fukiha

Ikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif DI SINI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »