Happy Ending

Happy Ending


Lahir dari keluarga sederhana, saya anak keempat dari empat bersaudara belajar bagaimana memaknai kehidupan. Ayah dan ibuku tidak tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan SD pun tidak tamat. Tapi mereka seorang pembelajar yang hebat. Ayahku seorang pekerja yang tekun dan setia. Bekerja sebagai kusir delman dari semenjak beliau bujangan sampai saat ini memiliki 5 cucu. Almarhum ibuku seorang ibu rumah tangga yang aktif dan tangguh dan sangat telaten mengurus keluarga, dan sesekali bertani untuk membantu perekonomian keluarga.

Jatuh bangun untuk menjalani hidup dan pendidikan sudah kulalui. Orang tuaku memprioritaskan pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka rela banting tulang agar anak-anaknya bisa sekolah. Meski tidak mudah, setiap kali ingin mengeluh karena gak punya uang jajan seperti orang lain, tidak bisa pergi jalan-jalan atau sekedar nonton bioskop, tak punya uang untuk beli baju baru dan penampilan yang keren, gak bisa naik mobil bagus karena harus jalan kaki atau sesekali naik angkot, seketika itu teringat perjuangan orang tuaku dan lebih memilih tetap bersyukur.

Bahkan, saat ibuku sakit keras, kami tak punya uang banyak untuk membawanya ke rumah sakit. Sungguh tidak rela saat itu ibu dipanggil Tuhan, tepat di saat menghadapi UN SMP. Ibu itu seorang malaikat dan kekuatan, pendamai, penyemangat, dalam keluarga. Saya hanya dekat dengan ibu. Rasanya sulit untuk kehilangan beliau. Tapi, hidup harus terus berjalan. Saya tetap menghadapi UN, keluarga saya mencari cara memulai kehidupan yang baru.

Tuhan mengubah kesedihan ini menjadi kebahagian baru. Ayah saya memutuskan untuk tidak menikah lagi, kakak saya yang paling besar memilih menggantikan posisi ibu untuk mengurus keluarga. Lambat laun, saya yang tidak terlalu akrab dengan keluarga saya merasakan cinta kasih mereka yang besar.

Dan sekarang, saya telah menjadi seorang Sarjana Pendidikan dan bersyukur telah memperoleh pekerjaan tetap. Demikian juga kakak saya menjadi Sarjana dan PNS di salah satu sekolah di Bandung. Dua kakak saya menjadi ibu rumah tangga sekaligus wiraswasta. Benih-benih perjuangan dan cinta kasih yang ayah dan ibu saya taburkan kini mulai membuahkan hasil. Saya percaya bahwa setiap masalah itu datang satu paket dengan solusinya. Dan itulah yang terjadi. Hidup itu harus disyukuri dan diperjuangkan. Tuhan mengerti setiap tetes keringat yang kita pertaruhkan. Babak-babak berat dalam hidup adalah batu loncatan untuk naik kelas menjadi lebih kuat. Jadi, saya bersyukur karena telah dilahirkan di keluarga yang sederhana, karena saya belajar melihat betapa besar cinta kasih Tuhan untuk saya dan keluarga. Tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah diam bagi orang yang terus berusaha.

Kisah Inspiratif oleh Evi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »