Kumpulan Kisah Inspiratif

Aku Tak Mau Terisolir

10/02/2014

Aku Tak Mau Terisolir


Langit siang ini begitu cerah, namun terlalu panas untuk daerah pesisir seperti Tegal yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dengan air Laut Utara. Sebuah rumah sederhana, dengan warna tembok krem ditempati oleh keluarga yang begitu lengkap dan bahagia. Meski di tengah kebahagiaan itu ada kekurangan yang dimiliki puterinya, Hafidzah Diah Artanti. Gadis berusia 8 tahun yang masih duduk di salah satu sekolah inklusi yang didirikan pemerintah itu memiliki kekurangan pada tangan kanannya, Afi sebutan kesehariannya itu hanya mampu menggunakan tangan kiri untuk melakukan semua aktivitas, termasuk kegiatan belajar di sekolah. Afi harus belajar menulis menggunakan tangan kiri, namun Afi tak pernah putus asa dari keterbatasannya itu. Sejak lahir, Afi memang sudah memiliki kekurangan pada tangan kanannya. Afi sempat minder atau malu untuk sekolah di sekolah reguler seperti anak pada umumnya. Orang tua Afi yang pekerjaannya hanya buruh, tak mampu menyekolahkan Afi di Sekolah Luar Biasa (SLB). Hingga pada akhirnya dengan diadakannya sekolah inklusi Afi mampu mengenyam pendidikan yang memang seharusnya ia dapatkan.

Suatu ketika aku berkunjung ke sekolah inklusi yang memang banyak pemandangan luar biasa yang bisa saya ambil hikmahnya. Begitu hebatnya anak-anak yang bersekolah di sekolah inklusi ini, mereka yang memiliki kekurangan mampu berbaur dan berteman dengan sebayanya tanpa sebuah penghalang fisik maupun mental dari diri mereka masing-masing. Termasuk anak hebat itu adalah Afi.

“Halo, boleh kakak duduk di samping kamu dik?” Aku mulai mendekati salah satu anak yang sedang duduk di bangku taman. Anak yang terlihat begitu manis dan ramah.

“Boleh.” Ia tersenyum.

“Nama adik siapa? Kenalkan nama kakak Rose.”
“Namaku Hafidzah, tapi teman-teman memanggilku Afi.” Afi mengulurkan tangannya padaku, aku benar-benar senang mendapat penyambutan itu.

“Afi kenapa sendirian?”

“Afi lagi nunggu ibu lewat, Kak."

Jadi, setiap jam istirahat Afi selalu menunggu ibunya yang berdagang keliling memberikan kue jajan buatan ibunya sendiri. Afi memang patut dicontoh, ia selalu menabung uang yang diberi oleh kedua orang tuanya dan tanpa rasa malu ia selalu menemui ibunya untuk lebih memilih makanan buatan tangan ibunya dibanding jajan yang belum tentu sehat dan higienis yang dijajakan di depan sekolah.

“Kakak mau?” Afi menawarkan satu dari dua kue yang ia pegang kepadaku, begitu baiknya anak ini. Kami langsung akrab dengan berbincang-bincang sedikit mengenai hidupnya.

“Buat Afi aja, ini kakak baru aja sarapan. Masih kenyang, sayang.”

“Oh, ya sudah.”

“Afi, kakak boleh tanya?”

“Boleh kak.”

“Afi nanti kalau besar pengen jadi apa?” Tanyaku penuh penasaran pada gadis berambut sebahu ini.

“Ingin jadi pelukis kak, tapi...” Afi kemudian menundukkan kepalanya dan raut mukanya kemudian berubah menjadi sedih. Aku tahu apa yang Afi rasakan.

“Afi, kenapa sedih? Harusnya Afi bangga, pelukis itu bagus. Afi tak perlu khawatir, selagi Afi mau belajar dan berusaha pasti Afi bisa.”

“Tapi Afi tidak sempurna, Kak.” Afi semakin murung, aku pun ikut larut dalam rasa keterbatasan itu.

“Jangan sedih Fi, Tuhan itu punya banyak cara untuk membuat makhluknya bisa, walau dalam kekurangan sekalipun.”

“Apa kakak percaya Afi bisa?” Pertanyaan cerdas dari anak berusia delapan tahun yang membuatku benar-benar tercengang. Aku menatap Afi penuh keharuan dan menjawabnya dengan pasti.

“PASTI AFI BISA!” Aku berkata mantap dan meyakinkan Afi.

Bel tanda masuk berbunyi, Afi berlalu meninggalkanku dengan wajah kembali tersenyum. Entah apa yang membuatku yakin, bahwa anak seperti Afi pasti memiliki kelebihan yang masih dipendam dan belum terlihat. Anak-anak seperti inilah yang seharusnya lebih diperhatikan pemerintah. Selain Afi, masih banyak anak lain yang aku percaya ada bakat, potensi, dan kemampuan lebih di balik kekurangannya. Aku yang memiliki kekurangan secara fisik maupun mentalnya memang seharusnya bukan untuk dijauhi, bukan ditinggalkan, dan bukan untuk diabaikan. Mereka memiliki hak yang sama dalam kedudukannya baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di negara demokratis, Indonesia ini. Anak-anak ini sejatinya tak ingin terisolir karena keterbatasan yang ia miliki. Mereka yang berkebutuhan khusus juga pastinya ingin mengeksplor dan mengembangkan diri mereka dalam sebuah wadah yang disebut SEKOLAH, dan sebuah kabar gembira dan merupakan angin segar ketika diadakannya SEKOLAH INKLUSI.

Selang beberapa bulan, setelah aku berkunjung ke sekolah inklusi itu. Aku mendengar ada perlombaan menggambar sekota Tegal untuk anak SD. Sebagai calon guru, aku tertarik sekali untuk menyaksikan acara tersebut. Ketika pengumuman perlombaan, aku mendengar nama Hafidzah Diah Artanti disebut sebagai juara 1 menggambar terbaik. Reflek aku langsung berteriak keras, aku ikut bangga pada Afi. Semua temanku yang ikut merasa heran, mengapa aku terlihat begitu gembira ketika Afi juara.

“Mengapa kamu ikut begitu bahagia?” tanya salah satu temanku.

“Entah kenapa, yang jelas aku bangga dan terharu pada Afi. Aku yang memiliki anggota tubuh normal tak bisa menggambar sebagus gambar Afi. Anak-anak seperti itulah yang luar biasa.” Aku meneteskan air mata haru.

Afi turun dari podium dan membawa piala, aku terharu dan berlari menemuinya.

“Kak Rose, kenapa ada di sini?” Afi tersenyum lebar padaku.

“Kakak sengaja datang kesini untuk melihat Afi.”

“Terima kasih, Kak.”

“Kakak percaya kamu pasti bisa jadi pelukis, ini awalnya Fi.” Aku mengelus kepala Afi.

“Aku sekarang tidak takut lagi kak, aku tak akan malu pada kekuranganku, aku percaya keajaiban Tuhan. Aku pasti bisa!”

Dari pengalaman tersebut, banyak hikmah yang bisa aku ambil. Aku jadi bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Aku juga semakin semangat dan peduli untuk mengajar anak-anak bangsa baik itu di sekolah reguler maupun di sekolah inklusi. Tak ada perbedaan untuk mengajar anak yang menyandang difabel sekalipun. Karena mereka pasti akan berkata sama “AKU TAK MAU TERISOLIR”. Gara-gara kekurangan itu, aku semakin tertantang dan termotivasi untuk menjadi guru profesional yang mampu membangkitkan dan mencerdaskan anak-anak bangsa. SEKOLAH INKLUSI CIPTAKAN GENERASI BERMUTU, BANTU PENYANDANG DIFABEL.

Catatan: Maaf untuk nama penyandang diatas bukan merupakan nama asli, karena dari pihak yang bersangkutan tidak mengizinkan namanya untuk dipublish, tetapi kisahnya diizinkan untuk di publish.

Kisah Inspiratif oleh Annisa Rose Kusuma Winahyu

Ikuti Lomba Menulis Kisah Inspiratif DI SINI

Baca Juga:

0 comments