Ra

Ra


Dear You,

Kalau hujan berhenti nanti, Ra, aku ingin jadi kembang sepatu. Kembang sepatu berwarna merah seperti yang ada di samping pos jaga taman tempat pertama kita bertemu. Ra, apakah kau masih ingat kembang sepatu itu?

Ah, ya aku lupa kau tak suka kembang sepatu. Aku ingat aku kecewa saat bertanya pertama kali tentang kembang sepatu padamu. Dalam banyak hal jawabanmu sering kali mengecewakan. Aku pun jadi takut untuk bertanya. Tapi saat ini kembang sepatu itu begitu lekat di kepalaku. Aku tiba-tiba megingatnya karena sekarang aku sedang terjebak di rumah. Di luar sedang hujan. Tidak terlalu deras tapi bisa membuat siapapun yang berada sepuluh menit di bawahnya lusuh kedinginan. Rumput yang katanya memiliki akar penguat tanggul itu saja seperti penderita tipus yang tak bisa bangun dari tempat tidur. Apalagi aku. Aku lebih kurus dan lebih rapuh timbang rumput-rumput itu. Dalam keadaan kurus dan rapuh seperti ini, Ra, aku biasanya teringat padamu. Segala tentangmu. Termasuk taman tempat pertama kita bertemu.

Aku harap kau bahagia-bahagia saja. Aku tak sanggup mendengar kabar kesedihanmu. Maka aku merasa tak perlu menanyakan kabarmu. Aku takut mendengar jawaban. Jadi, kuyakinkan saja bahwa kau pasti sedang bahagia. Kau harus bahagia, Ra.  Akan kupaksa tuhan membuatmu bahagia.

Kau tak perlu kuatir. Tentu aku pun bahagia. Sering tanpa sengaja terbawa ke masa lalu tidak melulu berarti keperihan kan? Meskipun aku akui, saat aku teringat padamu aku begitu saja menjelma makhluk paling melankolis di dunia. Menggelikan. Tapi tak apa, Ra. Anggap saja itu adalah fase lain dari diriku yang orang-orang kenal pemarah dan angkuh. Seperti kaubilang, seekor harimau pun memiliki nurani untuk mencintai.

O, ya. Akan kurceritakan padamu tentang apa saja yang kulakukan sehari-hari semenjak kau pergi. Aku merasa perlu meyakinkanmu bahwa aku pun bahagia. Setiap hari, seperti yang kau tahu. Aku tetap berkuliah dan menghabiskan waktu bersama teman-teman komunitas seniku. Aku sibuk sekali dan semakin menyibukkan diri terutama dalam komunitas seniku agar aku tidak terlalu sering tenggelam dalam kepalaku sendiri. Aku menggelar tiga pementasan selama 8 bulan dan menulis sebuah naskah drama. Mungkin nanti aku akan mengirimkan padamu lewat email agar kau bisa membacanya. Kau pasti akan suka karena naskah itu bercerita tentang sepasang burung yang jatuh cinta pada sebuah jendela yang sama. Mereka berebut untuk memiliki bayangan yang terpantul pada jendela itu. Sebuah kisah cinta, Ra. Tapi naskah dramaku belum dipentaskan. Kata beberapa teman naskahku terlalu disibukkan oleh kata-kata dan kurang memperhatikan unsur pemanggungan. Ah, mungkin lebih baik aku tetap memusatkan aktifitas menulisku pada puisi. Lagipula kaubilang puisi-puisi yang kutulis sangat bagus.

Kuhitung, 11 bulan sejak kau pergi, aku terpilih menjadi wakil ketua himpunan mahasiswa. Jabatan yang abu-abu. Tapi sungguh sangat menyita waktuku juga. Kau pasti ingat betapaaku mencintai apa yang kulakukan di kampus. Termasuk bidang kuliahku ini. Aku jadi sangat sangat sibuk sekali. Aku menikmatinya. Terlebih pada kegiatan-kegiatan di komunitas. Aku menghabiskan banyak waktu bersama hal-hal yang kucintai. Tentu saja. Kecuali dirimu. Ah, aku jadi malu. Padahal niatku menyibukkan diri adalah untuk menjauhimu. Tapi justru terlalu banyak kegiatan membuatku sering kelelahan. Sangat begitu lelah aku pun kembali teringat padamu, Ra. Hah. Maaf. Bukan maksudku menjadi sebegini lemah. Tapi entah kenapa, ketika dalam keadaan paling rendah, kau selalu satu-satunya yang bisa kukenali. Aku berjanji perlahan aku akan mencari hal lain.

Ra, mungkinkah saat ini kau pun tengah terkurung hujan sepertiku? Kumohon jangan dijawab. Ini bukan pertanyaan meski diakhiri dengan tanda tanya. Hari itu, bukankah kita juga dikurung hujan?

Baiknya aku akui saat ini padamu. Hari itu aku memang datang untukmu. Kau harus tahu meskipun pengakuanku saat ini tidak berarti apa-apa. Hari itu aku sengaja datang untuk bertemu denganmu. Kau ingat kapan kita benar-benar saling mengenal? Ya. Kita tidak pernah benar-benar saling mengenal sebelum hari itu. Tapi aku telah melihatmu jauh sebelumnya. Hari itu aku tahu kau akan ada di sana maka aku datang sekadar berharap bisa melihatmu lagi. Namun ternyata tuhan memberiku lebih. Siapa sangka kau akan menyapaku dan itu adalah percakapan kita yang paling lama. Dan paling akrab untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Entah setan apa yang membuatku tak jadi pergi padahal saat itu aku malu sekali. Mungkin senyummu, Ra.

Aku masih heran bahwa ternyata kau tahu namaku. Tenang saja. Aku tidak akan bertanya dari mana atau sejak kapan. Aku tidak akan pernah siap menerima kenyataan karena semuanya kini sudah selesai. Percuma. Ah, betapa sebenarnya aku ingin tahu bagaimana mula kau bisa tahu namaku, Ra. Apa mungkin kau juga pernah melihatku jauh sebelum hari itu. Apa mungkin kau juga memperhatikanku diam-diam, seperti yang kulakukan terhadapmu. Betapa ingin aku mengetahuinya. Meski kalaupun jawaban yang kuterima adalah kabar gembira, jawaban yang membayar seluruh air mataku. Jawaban yang kini sia-sia. Betapa inginnya aku, Ra.

Hari itu. Kau tidak pernah semanis itu. Rambut ikalmu dan bekas keringat di keningmu. Kau tidak pernah semanis itu. Terlebih saat kau tersenyum dan menyebut namaku. Segalanya jadi merah semerah kembang sepatu di samping pos jaga taman, di dekat kita berdiri. Pipiku, tanganku, jantungku. Tak peduli kau tak suka kembang sepatu. Itu adalah hari paling merah dalam hidupku, Ra. Aku jadi berpikir mungkin kebahagiaan warnanya merah. Atau kau punya pendapat lain? Aku akan setuju pada pendapatmu.

Apakah hujan selalu seperti ini, Ra? Mengurung kitapada keadaan-keadaan yang tidak kita sukai.  Tapi hari itu, aku ingat sempat bersyukur karena tuhan menurunkan hujan pada saat yang tepat. Kau jadi lama sekali berada di dekatku. Hari ini sebenarnya aku ingin pergi keluar rumah. Aku belum punya tujuan. Saat tak punya jadwal kegiatan, aku sering berjalan-jalan sendirian ke tengah kota. Terlebih di malam hari. Aku merasa tenang berada di keramaian dan keramahann kota yang asing ini, Ra. Aku tak perlu berpikir akan terlihat seperti apa karena orang-orang itu tak ada yang mengenalku. Lampu-lampu yang menyala itu, juga tak peduli mereka sedang menerangi siapa.

Sekarang, aku tidak lagi ingin keluar rumah. Kalau hujan berhenti nanti, aku ingin jadi kembang sepatu. Kembang sepatu berwarna merah seperti yang ada di samping pos jaga taman tempat pertama kita bertemu. Aku ingin merekam seluruh pertemuan di taman itu. Mungkin, kalau aku jadi kembang sepatu, aku tak perlu merasa kehilangan setelah kepergianmu. Ra, apa kau masih ingat kembang sepatu itu?

With Love,

NAR

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »