Nand

Nand


Dear You,

Nand, tahun berlari. Kabar tentangmu belum juga sampai di pucuk cemara, depan rumahku. Tak ada burung yang bernyanyi. Tak juga semilir angin menyampaikan berita. Kamu hilang jejak. Sahabatku Nand, ingat tidak, hari pertama pertemuan kita? Waktu itu kita kelas dua SMP, kamu murid baru, pindahan di tengah semester. Kamu memperkenalkan diri di hadapan kami semua. Senyummu ramah, matamu yang bulat indah, memancarkan cahaya penuh persahabatan.  Jujur aku tak begitu terpengaruh, sampai kamu menyeret kursi di ujung ruangan, kemudian mendekat tepat di sampingku. Aku ingat benar pedas sikapku terhadapmu saat itu. Maklumlah Nand, belum pernah ada yang bersikap sebaik itu padaku, kamu orang pertama yang menganggapku sebagai manusia.

Kamu tahu Nand? Di kelas itu aku hanya makhluk asing, yang bahkan tak kasat mata bagi mereka. Aku kaum terpinggirkan. Bukan golongan satupun dari mereka. Aku bukan orang kaya. Tak cantik. Tak pintar. Tak pandai bergaul. Kamu yang pertama melakukannya, mendekat padaku. Ah Nand, kamu satu-satu nya teman, sahabat terbaik yang tak pernah tergeserkan siapa-siapa. Nand, berapa tahun sudah kamu menghilang? Sejak kudengar kabar ayahmu tiada, tak ada lagi yang tersisa tentangmu. Semua yang kutanya tak tahu, tak ada yang tahu.

Kamu di mana, sahabat terbaikku? Rindu benar aku pada masa-masa itu. Ingin mengulang semua tawa yang kamu bawa, semua bahagia yang pernah ada. Tapi kamu di mana? Kemana lagi jejakmu harus kucari, Nand?

With Love,

NS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »