Kutitipkan Namanya Pada-Mu

Kutitipkan Namanya Pada-Mu


Dear You,

Semakin hari semakin jauh
Mungkin itu dia.
Semakin jauh
Bahkan sulit untuk terlihat lagi.
Tapi dia masih ada.
Bahkan jelas di hati.
Entah sampai kapan.

Tuhan, aku rindu dia. Tapi hanya diam ini yang menyampaikan. Kusandarkan perasaan ini kepada-Mu. Karena sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala isi hati.

Tuhan, akan sungguh indah jika aku dan dia ternyata ‘saling’. Tapi aku tak tahu, tak pernah tahu. Mungkin belum saatnya tahu. Aku menitipkan namanya kepada-Mu, tapi aku tak tahu siapa nama yang ia titipkan kepada-Mu.

Tuhan, terlalu banyak doa yang ingin aku  titipkan kepada-Mu. Tentang dia. Dia yang belum aku tahu akan menjadi siapa dia di masa datang.

Tuhan, terselip banyak kata setiap detik menyapa, tapi kata-kata itu semua tersampaikan dalam diam. Hening. Dan seperangkat kebodohan.
   
Entah terlalu lama diam, terlalu banyak kata yang tersimpan. Ya, tersimpan. Entah sampai kapan.

Tuhan, aku masih diam. Seperti perasaan ini. Saat Kau memperkenalkan dia denganku sampai Engkau akhirnya menyandingkan dia dengan dirinya. Aku masih diam. Tapi aku ingin diamku tanda aku berserah diri kepada rencana-Mu, kepada skenario yang telah Engkau buat. Aku ingin diamku untuk memuliakanya, bukan karena aku lemah dengan apa yang tidak aku punya. Karena aku punya Kau, itu lebih dari cukup.

Tuhan, rasanya aku sudah tahu. Jika tak ada lagi waktu untuk sebuah kesempatan atas urusanku kepadanya, biarlah. Aku tak peduli dia tahu atau tidak, karena Engkau tahu, itu lebih dari cukup.

Tuhan, sudah kutitipkan namanya. Biarkan Engkau yang menjaga. Terima kasih atas nikmat-Mu, semoga aku bisa menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur.

Aku berhenti ya, minimal kita pernah ada di waktu yang sama. Tuhan aku melepasnya, dan aku mohon Kau juga melepasnya.

With Love,

IOL

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »