Kepingan Hati yang Hilang

Kepingan Hati yang Hilang
Dear  You,

Saat kau putuskan tuk akhiri semua tentang kita, aku sakit. Saat kau inginkan pergi dariku, aku sedih tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tidak pernah tahu bagaimana aku harus berjuang melupakanmu. Kamu tak pernah tahu bagaimana sakitnya aku harus melihatmu bersama orang lain, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain diam dan menangis.

Sering kau datang mengusik hatiku, padahal lukaku belumlah sembuh. Kamu datang di saat sebagian hatiku masih mengharapkamu. Di saat kamu datang, aku selalu bisa menyambutmu dengan senyuman, aku bahagia saat itu. Tapi akhirnya kau pergi lagi. Kau menghempaskan hatiku lagi, aku terjatuh lagi dan itu sakit!

Aku tak pernah menyalahkanmu atas semua luka ini. Kamu tidak  salah karena selama ini aku memang tidak pernah memberi tahunya betapa sakitnya aku, betapa sikapnya membuatku terluka. Bukan karena kamu jahat, tapi karena aku! Karena rasa yang ada dalam hatiku! Seandainya rasa itu tidak ada mungkin aku tidak akan terluka seperti ini. Tapi aku harus bagaimana? Aku bahkan tidak punya sedikit pun kekuatan untuk menolak rasa ini. Aku benar-benar ingin pergi dari rasa ini!

Aku ingin membuangnya jauh, tapi harus kubuang sejauh apalagi agar aku tak berusaha memungutnya lagi? Aku sudah berusaha menguburnya, tapi harus kukubur seberapa dalam lagi agar aku tak berusaha menggalinya lagi?

Seandainya aku punya mesin waktu, aku ingin kembali ke masa sebelum aku mengenalmu. Bukan karena aku tidak mau mengenalmu, tapi tanpa mengenalkupun kamu akan tetap bahagia. Seandainya sang waktu berbaik hati, aku ingin kambali kemasa di mana kau bukan siapa-siapa di hatiku.

Aku merasakan ada kepingan hatiku yang hilang, entah di mana aku tidak pernah tahu lagi. Mungkinkah kau membawanya pergi? Tapi ya sudahlah. Itu sudah tidak penting lagi.

Aku mengirim surat ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Bukan untuk meminta pertanggungjawabanmu atas rasa sedih ini. Aku benar-benar hanya ingin menceritakannya. Aku hanya ingin membuat hatiku sedikit lega setelah menceritakannya kepadamu. Aku ingin mengikhlaskan rasa ini. Tuhan yang menganugrahkannya, dan akan kukembalikan juga kepadaNya. Semoga kamu selalu bahagia. Aku tidak akan pernah membencimu. Aku akan menutup kisah ini dan akan membuka hatiku untuk orang lain yang benar-benar ditakdirkan untukku.

With love,

RN

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »