Jarak

Jarak


Dear You,

Kau mungkin bertanya sejak kapan aku mulai menyukaimu, akan kujawab. Aku menyukaimu sejak aku hanya dapat berjalan tiga meter di belakangmu. Aku hanya bisa melihat sedikit wajahmu di atas balkon lima meter dari jalan aspal yang berdebu, dan aku hanya dapat sedikit melihat nanar matamu saat aku berada di seberang bangku di samping barisan bangkumu. Namun engkau tahu aku selalu menikmatinya sangat. Ketika kau berjalan tiga meter di depanku, aku amat senang ketika engkau tiba-tiba berbalik menatapku, mungkin kau bingung kenapa aku selalu salah tingkah dan memerah pipiku tiap kau balik memandang. Lalu aku selalu ingat ketika aku berpapasan lima detik denganmu aku selalu tak berkedip sekalipun. Aku amat senang dengan pertemuan-pertemuan kecil dan singkat yang sering tak terduga denganmu.

Namun aku sangat bersyukur setidaknya, aku selalu dapat menemukan sisi lain darimu aku sangat menikmati ekspresi saat kau serius, tersenyum, berbicara dan berjalan dengan langkah cepat. Aku selalu memperhatikanmu walau dari jarak tiga meter, lima meter, bahkan bermeter-meter, karena pada waktu itu aku dapat melihat original lakumu.

Selepas hujan di waktu petang, engkau duduk di balkon. Saat hujan sore menjelang maghrib mulai reda tinggal sisa rintikan airnya, aku berada tepat di seberang kosmu, aku duduk menemani temanku memesan makanan. Temanku berceloteh tentang banyak hal tapi aku tetap terpaku melihatmu yang asyik bertelpon, raut wajahmu senang, entah gerangan siapa yang menemanimu di seberang sana. Aku tak peduli mungkin ibumu atau keluargamu atau bahkan kekasihmu. Entahlah aku sedikit cemburu namun segera kutepis egoku aku tetap senang bisa melihatmu tersenyum girang. Aku berharap nanti diriku mampu membuatmu sumringah dan tersenyum.

Selepas kuliah,di tepi jalan di belakangmu. Saat itu matahari bersinar cukup kuat, engkau bejalan sangat cepat aku sedikit berlari kecil untuk dapat menyusulmu, tapi tetap saja langkahmu lebih cepat. Iya, seperti biasa engkau berada tiga meter di depanku mungkin Tuhan kasihan denganku dan akhirnya memberiku kesempatan untuk dapat menyusulmu. Saat itu aku memblokade melewati foodcourt meski banyak yang melihatku gara-gara aku berlari-lari tepat di jalan orang-orang memesan makanan untungnya tidak terlalu ramai sehingga aku dapat berlari dengan mudah. Aku dapat melihatmu di sekat-sekat flampet makanan dan tibalah di pintu keluar tepat aku berada satu meter didepanmu aku melihatmu kaget dan berhenti beberapa detik engkau melewatiku dengan sedikit tersenyum. Aku amat senang dengan jarak yang lumayan dekat satu meter.

Aku menunggu saat engkau dan aku memperkenalkan nama, lalu tempat tinggal, kesukaan, lagu favorit, sampai novel best seller. Aku menunggu saat engkau dan aku berada dalam lingkaran yang lebih akrab, untuk itu aku akan tetap menunggu tanpa aku cari tahu siapa dirimu. Aku ingin mengenalmu mengalir  lalu tiba pada muara yang bernama cinta. Saat itu mungkin tak lagi ada ukuran dengan satuan meter. Aku menunggu saat saat jarak lima meter, tiga meter, satu meter akan berubah menjadi satuan centimeter.

Entah kapan surat ini akan berada di tanganmu aku sedikit berimajinasi engkau akan membacanya entah selepas petang ditemani hujan atau selepas kuliah ditemani terik sang surya di atas balkon kosanmu dan aku dapat melihatmu di seberang jalan, melihatmu tersenyum, membayangkanya saja sudah membuatku bahagia. Aku akan menunggu waktu itu tiba. Iya, aku akan menunggunya.

With Love,

PH

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »