Don't You Remember

Don't You Remember


Dear You,

Suratku sore ini, entah akan sampai padamu atau tidak, aku hanya ingin melepas sebentuk rindu yang datang sejak kenangan itu ada.

Jalan berakar dan pohon berlumut, apa kabar kamu?

Pertemuan yang menyisakan rindu.

Masih ingatkah gerimis penghujung Maret yang mengiringi langkah kita menapaki kebun, melintasi sawah, pepohonan? Berharap bertemu ketinggian dan menyaksikan mentari terbit? Aku ingat.

Pertemuan jelang pendakian. Ada perkenalan ala kadarnya untuk pengukuhan bahwa kita adalah tim untuk pendakian ini.  Pendakian pertamaku. Kau tak ramah. Aku cuek. Kupikir takkan banyak urusan denganmu. Kau cowok aku cewek, boleh di adu, ciih jangan sombong dulu.

Ahhh kenapa kau duduk dekatku? Tiga orang rekan kita ada di belakang, ngerumpi. Kau dan aku? Kau diam, aku apalagi. Lagian omprengan ini amat sangat dahsyat. Padat. Sama sekali nggak ada celah antara kau dan aku. Sesekali kau menoleh. Sesekali kumelirik. Diam.

Pendakian dimulai. Sore yang indah di desa yang hijau. Langkah pelan kita mulai melintasi kebun kol nan subur. Jalanan sedikit licin. Mulai memasuki medan yang sedikit rumit. Mulai ada canda yang mengiringi langkah. Sesekali mengejutkan yang lain. Tawa akhirnya memecah sunyi. Mengubah kekakuan sore menjadi hangat. Senyummu manis ternyata.

Kenapa kau selalu di belakangku? Karena aku sering jatuh, berkali-kali menyentuh tanah? Hoaah, aku memang tak sekuat tiga wanita lainnya. Jadilah kau pengawalku. Hmmm apa boleh buat. Ehhh iya, kita ketinggalan. Sepatuku licin. Jalanan semakin rumit. Ranting dan akar saling bertautan.

Episode hujan yang mendebarkan.

Ingatkah kau? Melintasi kebun jagung saat hujan mengguyur deras? Sengaja aku melangkah dengan amat sangat pelan. Tiga srikandi lainnya jauh di depan. Kau mengamati sambil menatap heran. Kau tau aku suka hujan. Sepertinya ia milikku kini. Utuh. Tanpa ada tembok yang menghalangi. Dan kau malah meneriakiku. Kita harus berteduh. Kubiarkan hujan membasahi hingga alirannya terasa di kulit. Teriakanmu seperti hilang ditelan derasnya hujan. Kau biarkan sesaat ia turut membasahimu. Ada keheningan. Diam. Ada kekosongan yang tak terdefenisikan.

Bersama melintasi hujan deras itu, melewati kebun dan jalanan licin. Aku kuyup sudah. Tapi tidak hatiku. Hangat. Hujan dan dinginnya sore tak menjadikannya beku. Indah.

Padang edelwiss kala pagi turun.

Eh iyaaaa, ini nggak boleh di petik. Kalian kompak meneriakiku seolah aku ini pencuri. Tidak. Aku hanya mengambilnya beberapa. Mereka menggeleng. Tidak. Jangan mengambil apapun kecuali gambar. Aku terluka.

Ketika  pertemuan datang, tunggulah saat perpisahan itu menghampiri.

Akhirnya dua hari di alam menyisakan rasa yang menggelitik. Apakah kau juga tahu itu? Benarkah ada rasa yang sama yang terbaca lewat matamu? Jelang sore yang memisahkan. Saat jalan pulang kita berbeda. Selamat jalan kamu. Membiarkan debaran ini mengikutimu. Andai aku bisa menahan waktu.

Ada edelwis tersemat di ranselku. Katanya yang ada yang jatuh ke tanah. Beberapa potong. Terima kasih. Mungkin ini aneh, tapi dua hari bersamamu seperti kenangan yang membekas sepanjang tahun.

Desember, saat sore turun dengan anggun di cakrawala senja, berharap waktu membawa pertemuan itu kembali, mungkin nanti, i miss you...

With Love,

MI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »