Aku Merasa Sendirian

Aku Merasa Sendirian


Dear You,

Aku bingung bu, mau memulai cerita dari mana. Aku bingung mau menulis apa untuk seorang wanita nan tangguh, untuk seorang wanita yang hatinya terpaut kepada orang-orang yang dikasihi. Aku bingung untuk memulai kata.

Aku diam, bukan berarti aku tak mau cerita bu. Permasalahanku sontak hilang saat aku melihat desir halus wajahmu, saat aku mendengar hembusan nafasmu, saat aku berada nyaman sekali dekat denganmu bu. Aku bukan anak yang sepenuhnya telah berbakti pada engkau, bu. Dalam hidupku aku senantiasa ingin selalu membahagiakan ayah dan ibu. Dalam hidupku aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi panutan adik-adikku, suatu saat nanti adik-adikku bisa lebih hebat dibanding aku.

Engkau memahamiku lebih dari aku memahami diriku sendiri. Sontak, tiap kali teringat tentangmu mata ini selalu berair. Bahkan di tiap kepingan detik, aku selalu merindukanmu. Dalam membuat goresan ini pun rintikan air mataku pun jatuh nan tak tertahan. Aku sering pulang, seminggu sekali dari Semarang ke Kudus karena aku ingin melihat seorang Ibu yang selalu aku cintai. Karena aku ingin meng-charge kembali daya tahan mental dan fisikku.

Ibu, aku jarang cerita, bahkan tidak pernah cerita perihal kejadian-kejadian menyedihkan yang sering aku alami. Bukan karena apa bu, ketika aku sedih, pasti engkau lebih sedih. Ketika engkau tahu kesedihanku, ketika engkau lebih sedih dibandingkanku, aku jauh lebih sedih jika itu terjadi. Terkadang aku merasa aku sudah tidak adil, kenapa kepada orang lain, aku mau cerita, sedangkan kepada Ibuku sendiri aku tidak mau. Perlahan-lahan kumulai menceritakannya bu. Tapi aku ingin ibu jangan sedih, ataupun turut merasakan kesedihanku. Aku baik-baik saja bu, aku bisa melewatinya. Semuanya karena restu Ibu.

Bu, cinta bu, cinta. Cinta yang memaksaku tuk tetap bertahan di sini. Tuk meraih asaku untuk membahagiakanmu. Cintaku padamu hanyalah setitik air di tengah lautan bu. Pengorbananmu nan tak terbalaskan oleh suatu apapun. Cintaku padamu yang senantiasa mengingatkanku untuk selalu tegar dalam menjalani perkuliahan, yang banyak tugas dan responsi. Cinta bu, yang selalu memotivasiku untuk terus berjalan meski tertatih-tatih di tengah penolakan-penolakan organisasi yang aku daftari. Cinta juga bu, yang membuatku tidak mudah menyerah mendaftar lebih dari 10 organisasi di kampus meski semuanya itu ditolak. Padahal aku sudah meluangkan waktu, uang untuk pendaftaran. Dan aku malu bu, pada setiap orang yang tahu kalau aku sering ditolak organisasi. Sering aku bertanya bu, “Mengapa aku ditolak?” Mengapa bu?

Ya sudahlah bu, semua sudah terjadi. Aku tidak apa bu. Mungkin Tuhan berkehendak agar aku fokus di UPK. Toh aku di UPK FEB (Unit Pengembangan Komputer) juga masih baru. Dan aku yakin bu, Tuhan selalu baik padaku dan pasti akan memberiku kado terindah nantinya. Doakan aku bu. Aku bersyukur memiliki hidup seperti ini, dan pastinya aku bahagia sekali memiliki ibu seperti ibu.

Ibu, tapi yang hingga kini masih merasuki pikiranku adalah pengetahuanku tentang ‘diriku’ bu. Aku yang begitu introvert, melankolis dan koleris, apakah itu aneh? Mungkinkah aneh bu? Aku juga ingin disayang, punya temen banyak, bisa foto-foto dan jalan-jalan dengan teman-teman bu. Tapi, mengapa entah sejak dulu, aku jarang memiliki teman bu. Aku susah bersosialisasi. Bahkan di UPK ini pun, rasanya aku sendirian, aku masih belum menemukan teman yang sefrekuensi denganku. Tapi sekali lagi aku tegaskan bu, Aku baik-baik bu, selalu baik. Ibu tenang saja.

Aku terkadang iri pada teman-teman yang dengan mudahnya akrab, entah itu dengan cewek maupun dengan cowok. Sedangkan aku, jangankan pacar, teman cowok aja aku ga punya. Apa yang harus aku lakukan bu? Bantu aku. Aku ingin punya banyak teman untuk nantinya memperluas koneksi dan jaringan. Doakan aku bu.
Usiaku telah 19 tahun bu sejak 9 Januari kemarin, usia remaja yang harusnya sudah mulai berpikiran dewasa. Usia remaja yang seharusnya sudah bisa mandiri. Tapi aku, aku hanya terkungkung disini,bu. Yang aku tahu, aku tetaplah anak kecilmu bu. Yang dulu sering engkau marahi karena bandel. Sering minum es padahal sakit flu. Yang hingga kini pun, masih sering bandel akan nasihat-nasihatmu bu. Maafkan aku. Aku sayang engkau kini dan nanti.

With Love,

AEU

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »