Yang Kukagumi

Yang Kukagumi

Dear You,

Ibuku yang kukagumi, hadirmu laksana embun di pagi hari. Tak berwarna tapi mampu membuat daun jatuh cinta. Matamu memancarkan sinar kasih sayang yang tak pernah padam. Kesederhanaanmu terlukis indah dalam setiap tindakan. Kelembutanmu tersampaikan tutur kata yang sarat makna. Sempurna. 

Ibuku yang karismatik, Tutik Wuri Handayani. Nama yang sarat makna dan harapan. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, Tut Wuri Handayaniyang berarti di belakang memberi semangat. Ibu benar-benar penyemangatku. Oh iya, Ibu pasti ingat, 5 tahun lalu ketika aku  merengek ingin ikut lomba menulis surat kepada Presiden. Tapi aku pesimis. Aku "nol besar" dalam hal ini. Namun, dengan sabar ibu mengajari, menuntun, dan menyemangatiku menulis hingga aku berhasil mendapat juara 1. Sekarang mesin waktu seperti berputar kembali ke belakang. Bedanya, aku menulis surat ini bukan untuk sebuah predikat juara, tapi sebagai ungkapan kasih sayangku, bukan untuk orang lain, tapi terkhususkan untukmu.

Ibuku yang super duper bawel, aku ingat betul ketika ibu memberiku siraman rohani(marah) padaku. Huh. Lupa mematikan kran air. TV menyala sepanjang malam. Charging netbook kelamaan. Pulang telat. Acara organisasi nginep. Buku berantakan dimana-mana. Ke pasar ngabisin uang gara-gara gak nawar. Lupa ngunci pintu. Naik motor ngebut. Ga ikut wisuda. Ah, rasanya lembar ini tak cukup untuk menampung semua keteledoranku. Tapi aku yakin, ibu tidak benar-benar marah padaku. Ibu hanya ingin aku menjadi pribadi disiplin yang sebisa mungkin meminimalisir kesalahan. “Jangan sekali-kali kamu mengejar ketinggalan. Tak ada gunanya. Kejarlah kemajuan. Karena hanya dengan mengejar kemajuanlah kamu bisa menjadi pribadi yang bermanfaat\,” pesanmu yang selalu kuingat.

Ibuku yang cantik, kelak aku ingin seperti ayah dan ibu. Kalian sangat romantis. Aku pernah mengintip SMS ibu dan ayah. Duh, bikin iri. Hehe. Aku juga pernah menemukan  setumpuk surat cinta ibu dan ayah ketika masih pacaran lho. So complicated, right? Hahaha. Ibu sangat sederhana. Mungkin itu yang membuat ayah jatuh cinta dan memperjuangkan cintanya untuk ibu.

Ibu, aku ingat, tatkala kelas 1 SMP, aku benci sekali pelajaran Fisika. “That’s a kind of disaster!" pikirku. Grafik itu adalah adalah saksi bisu ke-so sweet-an kita berdua, bukan?



Suhu-xºC - 0ºC → Es             ( Q1 = m.c.∆t )
Suhu 0ºC  - 100ºC → Air       (     Q2 = m.L )
Suhu >100ºC → Uap              ( Q3 = m.c.∆t )

Katamu, “Hidup itu harus seperti grafik ini. Dinamis. Hidup ga boleh monoton alias statis. Mungkin kamu berpikir, air itu plin-plan ya? Pas di suhu 0ºC dia jadi es, pas di suhu 100ºC jadi uap. Tapi ambillah pelajaran dari sudut pandang yang positif. Air itu mudah beradaptasi. Dia mampu menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar."

Bu, ibu ingat? Tatkala kelahiran adik, aku tak diperbolehkan tidur dengan ibu di rumah sakit. Mereka jahat sekali! Mereka tak tahu betapa rindunya aku padamu. Butir-butir air pun mulai membasahi kedua sudut di pelupuk mataku. Aku sedih, Bu. Aku rindu ibu. Aku rindu canda tawa ibu. Aku rindu omelan ibu. Aku rindu masakan ibu. Kalau boleh aku mengadu, aku sudah tidak tahan dengan mie instant buatan ayah yang asin sekali. Tapi ibu berkata kalau aku harus tidur di rumah dan ibu pun menjanjikan segera pulang. Ibu memelukku. Pelukkan yang sangat aku nikmati. Hangat. Penuh cinta.

Bu, ibu tahu? Tengah malam itu, Aku mendengar ibu terisak-isak. Kamar ibu pun sengaja ibu kunci dari dalam. Aku kuatir tapi aku tak berani mengetuk pintu. Sayup-sayup aku mendengar ungkapan doamu yang ibu  panjatkan pada-Nya. Tentang ayah. Tentang kakak. Tentang adik. Tentangku.

Ibuku sayang, kutuliskan surat ini ketika ibu tengah terlelap. Teriring surat ini kukirimkan permintaan maaf atas semua khilaf. Lewat surat ini kusampaikan ungkapan kasih sayang yang mungkin tak hangat. Lewat surat ini kusampaikan untaian doa dalam harap. Aku sayang Ibu.

With Love,

DS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »