Untuk Kekasihku [2]


Untuk Kekasihku


Dear You,

Kita baru mencicipi sejumput manis getir perjuangan cinta. Ingatkah engkau saat bersusah payah mengumpulkan lembar demi lembar rupiah untuk bekal menggelar akad nikah dan walimah? Kau bahkan ikhlas meliburkan diri dari kampus untuk menjadi pegawai upahan kantor?

Pun seusai akad sederhana itu tergelar, cibiran tetangga melenggang dari mulut ke mulut. Apa salah jika kita enggan melangsungkan pesta mewah? Ah, lidah manusia itu memang lebih kejam dari pedang setajam apapun.

Belum lagi sindiran seorang tetangga, demi membaca kartu identitasmu yang mengisahkan perbedaan umur kita yang cukup jauh. Ah, usia adalah angka bukan? Dan perbuatanlah yang membuktikan kedewasaan.

Rasa sakit karena ocehan miring para penonton itu cukuplah kuseka dengan penghapus iman. Biarlah Alloh yang menggantinya kelak dengan rasa bahagia.

Masih ingatkah pula dirimu Zawjiy, saat kita berselisih paham, entah atas hal pelik ataukah hanya atas kesalah pahaman setitik?

Ah, sungguh aku malu dan merasa bersalah saat ini, jika mengenang saat-saat itu. Kuakui, watakku yang terlampau sensitif dan emosional, kerap meruntuhkan pertahanan sabarku. Dan untuk itu, aku minta maaf padamu, tolong kau lumpuhkan ingatanmu atas semua khilafku. Aku pun memohon ampun pada-Nya, karena telah menjadi istri yang durhaka kala itu.

“Jika engkau dapati aku sedang marah maka maafkanlah, dan jika aku mendapati engkau sedang marah, aku telah memaafkan. Dan jika tidak demikian, kita tidak akan pernah saling mencintai, tak akan pernah bersatu, tak akan pernah saling mengerti.”

Kukutip untaian pesan cinta Abu Darda, sang sahabat Nabi, teruntuk istrinya, demi mewakili isi hatiku.

With Love,

MIS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »