Untuk Kekasihku [1]


Untuk Kekasihku


Dear You,

Detik ini, saat kutulis surat ini, dingin tengah menyelimuti sang  malam. Matahari sang penghangat bumi telah beranjak pergi beberapa hari ini. Marahkah ia pada manusia yang kerap tak bersyukur atas kehangatannya, ataukah ia sengaja meliburkan diri untuk mempersilahkan hujan bercengkerama dengan makhluk bumi?

Kau pasti tersenyum jika mendengar celotehku ini, ya kan? Aku juga akan serius mengamati mimik wajahmu yang kadang tak berekspresi itu, menerka-nerka apa yang sedang kau pikirkan. Tapi jangan khawatir sayang, meski udara begitu dingin, hatiku selalu hangat berkat cinta dan perhatianmu. Iya, cinta dan perhatianmu yang tak mungkin terganti . Tak terganti, karena kau satu-satunya pria yang kuijinkan mencintaiku, membimbingku, dan mengingatkanku agar tak menjadi wanita yang dibenci Sang Maha Pemberi cinta.

Meski baru dalam hitungan bulan kita bersama dalam satu ikatan  yang diridohoi-Nya; mitsaqan ghaliza; namun cinta ini tlah memberiku hidup baru. Hidup yang penuh asa, pembelajaran, dan perbaikan. Seakan ruh baru mengisi jiwaku, memacuku melesat ke impian terhebat seorang wanita.

Indah dan penuh optimisme, itulah hidupku sebagai istrimu.  Namun, keindahan dan kebahagiaan sejati tak datang dengan sekali menjentikkan jari bukan? Bukan pula ia barang instan yang dapat dibeli dengan harga murah. Kebahagiaan itu diraih dengan bayaran setimpal berupa perjuangan tiada bertepi. Perjuangan menggapai cinta sejati, cinta yang tak berakhir dengan kematian. Cinta yang jika Alloh berkehendak, akan bertaut kembali di jannah-Nya. Ya, itulah tepian perjuangan; jannah.

With Love,

MIS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »