Objek Baru Ruang Rindu

Ruang Rindu



Dear You,

"Mata terpejam dan hati menggumam. Di ruang rindu kita bertemu" – Letto.
Setiap kali mendengar lagu dari Letto di mana pun itu, aku selalu mengingat saat aku berperan dalam pentas teater yang pertama, kusebut "sajak putih". Di drama tersebut, aku dituntut untuk menjadi orang dengan hati yang patah, dengan harapan yang patah, juga perasaan yang tak kalah patah, sedih ya... Setidaknya, tangan, kaki dan bagian lain dari tubuhku tidak ikut-ikutan patah.
Kuusahan memerankan lakonku sebaik mungkin, sememukau yang kubisa. Mengeluarkan sisi lain dari diriku yang tak banyak orang tahu. Sebenarnya dalam peran itu, aku seolah mendapat sokongan tenaga, seperti ada bisikan usil yang menyemangati, dan bisikan usil itu kusebut "kamu".
"Semangat, ya.." Ujarmu di beberapa jam sebelum pentas teater dimulai.
Semudah saat kamu berkata demikian, semudah saat kamu berjanji akan melihat penampilanku kemudian. Tetapi di sela-sela aku berdrama, kamu tahu...mataku sibuk mencari-cari kamu, di antara barisan penonton, kamu tak ada? Akhh... kamu pasti ada, cuma tersembunyi entah di mana, iya kan? Ketika dialog bagianku terlontarkan, korneaku lebih giat lagi mencari, lebih sering lagi meneliti. Tetap saja kamu tak ada. Sampai tiba di jenak aku harus berperan sangar, marah, penuh emosi dan hal-hal lain yang menggambarkan jika diriku tengah dalam nuansa kelabu, abu-abu, hitam, kelam dan warna-warna lainnya yang dapat menunjukkan kalau perasaanku saat di pentas tengah; kecewa.

Sebenarnya ketika melakukan semua aksi semacam itu, sedikit banyaknya aku dibantu rasa kecewa yang datang karena tak melihat kehadiranmu, sebab tak kutemui siluetmu di antara jejeran penonton. Mengapa kamu tidak datang? Akkhhh, bodohnya aku, banyak hal yang lebih penting dari sekedar menontonku berdrama, iya, kan?
Entah apa yang telah mengisi otak ini, maaf ya, belum apa-apa aku sudah menuntut itu-ini. Sejujurnya, aku cuma berharap mendapat panutan. Orang yang bisa kujadika tuntunan penunjuk jalan. Kembali kepada hakikat bahwa manusia adalah makhluk sosial, tak bisa sendiri, sudah pasti.  Mungkin ini cinta? Dari kedekatan yang sering menghampiri kita. Ayolah, jangan memiliki pemikiran sempit, jika cinta hanya milik pasangan kekasih saja, jika cinta hanya milik dua orang saja. Cinta memiliki banyak sisi dan tak hanya untuk sekedar kekasih pun tak cuma untuk dua orang dengan gender berbeda. Cinta luas maknanya juga bukan sekedar masalah nafsu saja! Teruntuk orang-orang yang pernah bilang jika ada 'Cinta pada pandangan pertama' bagiku hal demikian tak ada, itu hanya nama lain untuk 'nafsu pada pandangan pertama'. Okkay, lupakan, silahkan abaikan.

Kembali fokus pada kamu objek rindu paling jitu. Boleh kutitipkan beberapa pinta dan tanya? khawatir sedang mengalir sebab kabar darimu tak kunjung hadir. Jarak seperti mampu membombardir, hingga seisi ruang terdalam hati ketar-ketir. Bisakah telepatikan dirimu ke tempat diri ini berpijak? Jika bisa yakin dan percayalah tak akan kuizinkan diri ini beranjak.

Harapku, kamu bisa menjadi sosok yang bersedia memberiku jeweran ketika aku mulai payah dalam menuruti aturan. Bersama dalam instansi itu: tempat yang menciptakan temu bagi kita. Aku ingin menjadi insan yang dapat dengan baik mengikuti ajaran yang benar, tanpa asal menakar-nakar.Oh, iya... Aku juga ingin menanyakan kabar janjimu: ajakan taraktiran makan sebagai pengganti kata maaf atas ketidakhadiran sosokmu di pementasan teater waktu itu. Masih dalam keadaan baik kan, janjimu? Sebelum kita bertemu nanti. Aku akan bersiap-siap menyiapkan hati untuk menyelipkan doa pada Sang pencipta, agar lengkap segala usaha, dan biarkan semua terjadi sesuai rencana-Nya, sebab bagaimanapun kita hanya seonggok daging yang tak punya daya.

With Love,

MI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »