Mr. Angkuh

Mr Angkuh


Dear You,

Kita pernah begitu dekat. Tanpa terasa waktu berjalan sampai tahun kesepuluh. Hmm, benar-benar tak kuduga, persahabatan kita bisa bertahan selama itu. Bayangkan, satu dekade!

Mr angkuh. Masih ingat kenapa julukan itu kusematkan padamu? Karena senyummu begitu mahal! Padahal aku suka bibir itu, yang merah alami, dan begitu manis. Ya, manis. Meski itu baru kuketahui kemudian... Hahaha... Aku jadi malu.

Ingat tidak pertemuan pertama kita? Setelah sekian lama berbincang hanya lewat telepon, hari itu kita janjian ketemu. Kamu tahu betapa tidak nyamannya hatiku saat itu? Dag dig dug serrrrr. Maklum, kamu kan kakak kelasku yang kukagumi, tapi sombongnya minta ampun! Di sekolah, mana pernah kamu menegurku, gengsi.

Waktu itu aku meminta satu hal, aku merengek memintamu menemaniku melihat bintang. Ya, bintang yang di langit itu. Kamu terdiam, entah apa yang terlintas di benakmu kala itu. Tapi syukurlah, kamu akhirnya setuju. Darah di tubuhku serasa mengalir terbalik, seiring detak jantungku yang mendadak kacau, tak beraturan.

Kamu tahu? Bintang itu hanya alasan saja, sebenarnya. Aku memang sangat menyukai benda angkasa yang satu itu, tapi tentu saja kilau dari mata angkuhmu, yang bisa kulihat dari dekat jauh lebih mengagumkan. Malam itu, untuk pertama kalinya kita berbincang, saling menyentuh dalam nyata. Ya Tuhan, ternyata kamu memang tercipta atas nama keindahan. Bibir merah itu, dan mata yang lebih tajam dari yang pernah kubayangkan, sungguh kombinasi sempurna.

Sayang, malam itu mendung. Tak satupun bintang muncul di angkasa kelam. Kamu mengeluh, merasa melakukan hal yang sia- sia. Aku hanya diam, aku cuma ingin bertemu kamu, Mr. Angkuhku. Cuma ingin menyentuh dan mendengar ceritamu, tanpa gagang telepon seperti biasa. Aku hanya ingin diakui, bahwa aku ada, aku pernah  ada, di sisimu.

Dan, cerita malam itu berakhir. Bagi kamu, mungkin itu hanya malam biasa, cerita biasa. Namun bagiku, malam itu adalah malam terindah, dihiasi bintang terindah pula. Kamu. Mr angkuh. kita pernah sedekat itu. Lalu malam-malam  berikutnya terlewati, sampai waktu membawa kita pada tahun kesepuluh.

With Love,

NS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »