Momen Itu

Momen Itu

Dear You,

Hey! Ah maaf, sebelumnya membuatmu bingung akan ini, mungkin kau akan terkaget melihat surat ini. Atau juga kau akan berpikir, "Siapa dia?" Aku akan mengingatkanmu dengan ini.

"Apa kau tak membawa buku?"

"Hah? Apa?"

"Buku! Untuk mencatat!"

"Ah, buku! Ya, tentu saja"

Maaf jika kau masih tidak mengingatnya, yah karena memang itu bukan merupakan momen penting untuk diingat. Tapi tidak bagiku, D. Karena itulah momen pertama ketika aku berbicara padamu. Ketika kita, berbicara, saling memandang, meski tidak terlewat semenit untuk itu. Aneh, bukan? Itulah yang kurasakan. Aneh. 

Ketika itu, bimbingan kimia dan kau duduk tepat di sebelahku. Sangat terasa mendebarkan dan aneh untuk seseorang yang tidak saling mengenal satu sama lain. Lalu kau mendekatkan wajahmu kepadaku dan bertanya, "Kau tidak membawa buku?" Tuhan! Apa ini? Aku bahkan tak bisa berpikir kala itu. Karena hati ini meloncat-loncat tak karuan, hingga kuhanya bisa menjawab, "Hah? Apa?" Itu sangat lucu, hingga aku masih mengingat betul momen itu. Ah, sangat gila memang. Sangat gila ekspresiku saat itu. Linglung.

Hey D, kau tahu? Aku sudah menahan perasaan ini mulai tahun pertama di SMA, mulai kau berpacaran dengan orang lain, hingga sekarang kau telah mempunyai yang baru. Kau tahu juga? Aku disini seperti penggemarmu. Walau terkadang berharap lebih. Tapi aku cukup nyaman disini. Menunggumu, mengamatimu, melihatmu dari jauh seperti ini. Sudahlah cukup.

With Love,

PK

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »