Mama, Papa dan Cinta

Mama, Papa dan Cinta

Dear You,

Aku tersadar dari tidur panjangku dan mendengar ada suara anak kecil yang berteriak memanggil mamanya. Air mataku luruh dengan sendirinya. Bukan karena teriakan yang memecahkan telinga, melainkan karena ingatan masa kecil yang kembali hadir dan masuk tepat di pusat pikiranku. Aku meradang, wajahku basah dan pandanganku kabur. Kenangan hitam itu kembali menyapa, membelenggu ingatanku, menyesakkan nafasku dan menyulut amarahku.
Aku benci ketika mengingat hal itu. Aku benci jika harus ingat bahwa ada jarak antara aku, mama, papa dan cinta. Cinta. Sesuatu yang dulunya terasa indah dan hangat kini menjadi dingin, beku dan menusuk. Seringkali aku merasa sepi, kosong dan hina. Karena tak ada jemari lembut nan hangat yang mengelus ubun-ubunku. Tak ada dekapan mesra yang menenangkan batinku. Adanya hanya serba kekacauan yang selalu mengganggu stabilitas emosionalku.
Di luar sana terlalu banyak orang yang mencemoohku, bahkan jijik melihatku. Karena gaya hidup, cara berpakaian dan nada bicaraku yang frontal. Aku sama sekali tidak menginginkan kepribadian seperti itu, tapi semua terbentuk dengan sendirinya. Aku tidak tahu cara terbaik untuk melalui rotasi waktu ini. Karena kini tak ada lagi pelita dihidupku. Yaitu mama. Pernah suatu hari aku bertemu mama, tapi tak menemukan sosok mama dalam dirinya. Bagiku, ia hanya seseorang yang kupinjam rahimnya selama 9 bulan 10 hari.
Aku merindukan saat-saat bersama mama dan papa. Dua insan yang telah berbagi kasih dan merajut cinta hingga menjadikan aku ada di dunia ini. Tapi sekarang, dimana kalian? Tak ada lagi mama, tak ada lagi papa, dan cinta. Dimana dia? Cinta telah berubah menjadi benci dan meninggalkanku sendiri dalam keterpurukan.

Kini, ikatan suci yang telah diuntai dengan indah sama sekali tak ada artinya. Ikatan suci yang hanya menyiksaku. Tak tahukah mama bahwa kini aku telah tumbuh dewasa? Tak tahukah mama bahwa kini papa telah tiada? Mama masih saja kukuh dengan keputusannya untuk meninggalkanku dengan papa. Sekarang, papa telah dipanggil oleh-Nya, dan yang tersisa hanya aku. Aku seorang diri. Aku yang tak punya sandaran hidup.
Tuhan, bukakanlah pintu hati mama. Kembalikan mama kepadaku. Tajamkanlah ingatannya hingga ia tersadar bahwa pernah ada ikatan suci antara mama dan papa yang menjadikanku ada di dunia ini. Aku lelah menjalani hari seorang diri. Aku butuh bahu untuk bersandar. Aku tidak sanggup lagi menjalani hidup dengan sepi dan kegelapan. Aku butuh mama. Sosok yang seharusnya menjadi pelita sekaligus penunjuk arah bagiku. Namun mengapa mama malah mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk orang lain? Orang yang sama sekali tak pernah menyentuh rahimnya. Mama menjadi penunjuk arah bagi orang lain, hingga menjadikan orang lain itu sukses dan berwibawa. Sedangkan aku? Aku hanya sebatang kara yang tak layak ada di dunia ini. Truk berkecapatan tinggi itupun telah merenggut hari-hariku yang memang kurang indah. Untuk apa aku ada? Kalau kini hanya sekedar membuka mulut saja aku tak sanggup. Apalagi untuk berjalan. Aku tak punya kekuatan melakukan itu sendiri. Aku butuh penopang yang mampu membopongku keluar dari ruangan ini. Ke luar sana. Menikmati indahnya dunia bersama oksigen-oksigen segar dan mawar yang bermekaran. Tapi apa daya. Aku hanya bisa menikmati secerca mentari pagi yang mengintip di antara celah jendela kamar hijauku.
Mama, tak tahukah engkau bahwa kini putrimu ini hanya bisa terbaring lemah di kamar inap? Sebagian raga dan jiwa putrimu ini telah mati. Putrimu sangat amat membutuhkanmu. Membutuhkan semangatmu. Mama, aku tidak bisa memintamu menemuiku, karena aku tidak lagi tahu dimana keberadaanmu. Aku hanya bisa memohon padaNya, agar Mama mendengar doaku ini. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan dunia ini. Mama, kamu adalah sosok yang selalu kunanti untuk hadir menemani setiap malam panjangku.

With Love,

MA

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »