Kenangan Tentang Kita

Kenangan Tentang Kita

Dear You,

Cahaya matahari pagi mengetuk lembut jendela kamarku, bias-bias teriknya seperti menghangatkan kembali sejuta kenangan itu, ya kenangan tentang aku, kamu dan kita.

Seketika semua kenangan tentangmu muncul dan menari-nari dalam ingatanku. Ribuan langkah dan jalan yang  pernah kita lalui, berpegangan tangan dalam suka dan duka, sabar dalam menghadapi setiap rintangan yang ada di hadapan kita berdua, setia dalam terpuruk dan bahagia, kembali menyeruak dari ingatan yang sebenarnya ingin aku kubur dalam-dalam untuk selamanya.

Kupaksakan membangkitkan diri, berlalu membasuh muka, berharap hal ini dapat membuat jernih kembali pikiranku agar tidak mengingatmu kembali untuk kesekian kalinya. Air mengalir melalui sela-sela jariku yang dulu pernah kau isi dengan jemarimu. Aku hampir lupa bagaimana rasanya hangat genggaman tangan dan sentuhan kasih dan sayang, bukan karena terlalu lama dalam kesendirian ini, melainkan terlalu lelah aku menahan kecewa dan luka yang pernah kau toreh hingga aku lupa bagaimana hangatnya cinta.

Buru-buru kusudahi ritual pagiku, kubuka jendela kamarku, sembari bernyanyi kecil kutatapi langit. Indahnya hari ini, hamparan langit biru dihiasi awan putih menyelimuti negeriku yang kusam bekas hujan semalam. Begitupun hatiku, hhh,,, rasanya baru kemarin aku menangisi kehilanganmu. Kala kutatap matamu dalam-dalam, terlihat jelas gambaran segala lelah, penat dan jenuh akan semua ini, akan semua yang telah kita lalui sepanjang hubungan kita. Tanpa perlu kau ungkapkan pun aku tahu bahwa kau menyerah dan ingin berlalu pergi, menjauh dan takan kembali, aku tak inginkan kau terluka, pun kehilanganmu. Tapi keadaan sudah benar membuat kita muak, muak dengan segala rintangan sehingga pada ahkirnya melecutmu untuk utarakan perpisahan dan menyerah kalah pada perjuangan panjang kita selama ini. Aku tak berdaya hanya bisa diam, menahan segala tekanan yang menghujam batinku, berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum. Satu senyuman satu kata perpisahan menutup lembar cerita tentang kamu dan aku kala itu.

Lalu selepas itu apa aku bangkit? Tidak? Aku terlalu lemah untuk menanggung luka ini sendiri, tapi pada akhirnya pun aku terlalu tangguh untuk dikalahkan oleh cinta dan bualanmu yang sempat buatku merasa berada pada puncak kebahagian tertinggi. Sempat batinku tersiksa kala menahan rindu yang semakin angkuh. Tapi masa lalu tentang ini hanyalah lecutan kecil agar buatku lebih tangguh menghadapi segala kemungkinan hidup di masa depan. Bersama surat ini, aku ingin menyampaikan rasa cinta dan terima kasihku padamu akan hari pengakhiran yang kau adakan kala itu. Dengan surat ini pula ingin kusampaikan padamu bahwa jika kau ingin kembali ketika kita telah dewasa nanti, aku masih membuka seluruh ruang hatiku untukmu. Datanglah jika kau mau. Karena hati ini pun masih milikmu. Muhammad Rizal.

With Love,

EA

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »