Humaira

Humaira

Dear You,

Ya Humaira, matahari cintaku! Sehatkah kamu di sana? Aku datang memijit tubuhmu yang sangsai sehabis bekerja seharian. Sayang, cuma dari jauh lewat suara batin suratku. Namun, kamu tahu itu, ada sesuatu yang lebih bernyawa di dalam suaraku yang jauh. Seperti aku tahu di sini, ada riak rinai hujan di antara cahaya mataharimu.

Ade yang baik, ada banyak cerita yang ingin kuceritakan buatmu. Barangkali juga sebuah konsep filsafiah seperti yang selalu kamu dengar dari mulutku jika kamu terkadang bingung bagaimana memahami orang gila yang baik sepertiku ini. Aku masih ingat bagaimana matamu tajam dan berpikir keras melihat cara berpikirku yang tidak pernah kamu lihat dari anak-anak muda yang pernah kamu kenal. Aku masih ingat juga saat kamu mengajakku membicarakan sesuatu di sepanjang jalan Cempaka Putih. Lalu kita tertawa terbahak-bahak waktu ingat kelakuan kita itu karena kita tersesat ketika mencari jalan pulang di antara rumah orang-orang kaya di sana. Rintik hujan memukuli tubuh kita saat itu. Lalu tangan kita saling berkait berlarian mencari tempat berteduh. Tubuh kita basah kuyup waktu itu, tapi hati kita hangat saat tubuh kita lindap di kedai kerang rebus milik orang Surabaya itu. Hmm, nyam-nyam, enak kataku sambil melumat habis dua piring kerang di mukaku. Sementara kamu juga larut dalam goreng udangmu. Saat itu giliran aku yang terpana melihat kerakusanmu makan udang. Hi, hii.., asyik, katamu. Sayup-sayup radio tukang kerang rebus itu melantunkan Ebiet G. Ade ke dalam telinga dan hati kita, "Ingin berjalan berdua, dengan mu kekasih, lewati malam setelah usai, rinai gerimis, pipimu memerah, kenapakah waktu, tertinggal jauuuh... "

Ade, matahari cintaku, sekarang kita tak bisa lagi mengunjungi kedai kerang rebus itu. Kamu tahu, lagu Ebiet G. Ade itu barangkali mengingatkan kita untuk tak melupakan kedai orang Surabaya yang selalu tampak cemburu melihat kita asyik bercanda sambil makan kerangnya. Kamu tahu, sampai ia tak mau dibayar kerangnya karena ia bahagia melihat keakraban kita bisa berlama-lama menemani malam-malamnya di kedai. Sambil berterima kasih, ia meminta selalu mengunjungi kedainya, biar pun sekedar minum teh hangat gratisnya. Kita selalu juga merasa berdosa jika dalam seminggu sekali tak pernah ke sana, sampai akhirnya kita jadi langganannya. Kamu tahu, salah satu kebahagiaan kita walaupun tidak punya duit adalah membuat orang lain bahagia. Kebetulan saat itu kita punya duit, jadi sekalian kita turut memberi kebahagiaan moral dan materi buat orang Surabaya itu. Sekarang waktu telah tertinggal jauh, seperti kata Ebiet G. Ade. Orang Surabaya itu pasti bertanya-¬tanya kemana perginya kita. Pasti ia sangat bersedih selama ini. Jadi, maukah kamu menyusun lagi rencana agar kita bisa kembali memberi kebahagiaan dengan mengunjunginya lagi? Aku tunggu jawabanmu segera.

Ade, my lover, ada cerita menarik pada saat aku berulang tahun kemarin. Kamu tahu, Jakarta membuatku hampir gila dan imanku dibantai tanpa henti. Jakarta bagiku bagai kota rusuh, dimana iman manusia bermoral semakin tipis batasnya, kota dimana etika selalu didengungkan untuk kemudian dikhianati dalam sekejap. Meski demikian, aku sangat ingin berulang tahun sekali saja di Jakarta. Kamu tahu, beberapa saat ini imanku memuncak karena Tuhan mengujiku setiap saat di sana. Aku tak juga apa sebabnya aku ingin sekali berulang tahun di Jakarta kali ini. Barangkali karena tempat bekerjaku sekarang memberi sesuatu yang lain bagi pengembaraan batinku.

Ade yang baik, Sonhadji adalah bosku sekarang. Kamu tahu ia orang baik yang membuatku iri. Kamu harus tahu prinsip saya bahwa kita di dunia hanya boleh iri pada dua hal, pertama, orang kaya yang selalu menafkahkan kekayaannya di jalan Allah dan orang berilmu yang selalu mengamalkan ilmunya demi kepentingan umat dan agamanya. Kamu sudah tahu dari saya bahwa Sonhadji, bosku itu, layak membuatku iri karena ia bisa berbuat seperti itu. Seperti juga telah kuceriterakan padamu, aku selalu kalah dan merasa kecil jika berdebat soal umat dan agama di dunia ini karena aku selalu kalah olehnya. Barangkali aku harus lebih lama berguru kepadanya. Lewat kerjaku, sebenarnya aku sedang berjalan ke sana. Andai pun aku tak digaji, aku rela asal ia mau mengajariku tentang hidup dan berbagai persoalannya yang kerapkali membuatku telah memikirkannya. Tapi sekali lagi kukatakan ia orang baik yang pantas membuatku iri. Ia menghargai setiap tetes keringatku, walaupun dengan terus terang ia belum membayar harga otakku yang sebenarnya.
Sehabis kembali dari Jogjakarta beberapa hari sebelum hari ulang tahunku, aku diajaknya berdiskusi empat mata tentang masalah hak asasi manusia. Rupanya ia mempunyai pikiran yang membuatku tercengang. Sampai saat ini pembicaraan itu tak ada solusinya karena para profesor di Indonesia pun telah diberi "pekerjaan rumah" yang sama seperti yang diberikan padamu belum ada yang bisa menjawab pikirannya. Sudahlah itu tak perlu kamu pikirkan karena itu akan jadi "PR" panjang buat hidupku. Tapi yang perlu kamu tahu adalah cerita saat ia tahu aku berulang tahun, ia membuat kejutan buatku dan semua karyawannya.
Saat salat Dhuhur ia membawa seluruh karyawannya berjamaah menghadap-Nya. Itu satu kejutan karena sebagai orang penting dan sibuk, jarang sekali ia bisa melakukan hal itu seperti yang terjadi saat itu. Semua karyawan juga terheran-heran, termasuk aku. Saat salat Ashar kembali ia mengajak semua karyawan menghadap-Nya. Selesai salat, ia memberikan fatwanya sejenak kepada semua karyawan. Aku terpekur bersama yang lain. Pukul empat tepat ia kukira akan mengakhiri pembicaraannya saat ia mengucapkan syukur kepadaNya. Rupanya aku dan yang lainnya salah duga. Bosku ternyata mengumumkan syukurnya atas hari ulang tahunku kepada semua yang hadir di mushola kantorku. Semua terkejut lalu bergembira seraya mengucapkan selamat kepadaku. la tampak bahagia saat aku kerepotan menerima uluran tangan kawan-kawanku. Ketika semua berhenti memberiku selamat, ia memberiku kejutan kedua, hadiahnya lewat ajakannya untuk mendoakanku lewat Surat Yasin yang dibaca bersama-sama. Sejak hari itu juga bosku menetapkan agar Yasinan dilakukan sampai 40 hari untuk kepentingan semua pihak di perusahaanku.

Sehabis acara itu, aku berseru kepada-Nya, Allahu Akbar! Engkau telah memberiku seorang bos yang tak pernah kutemukan sebelumnya. Ketika kawan-kawanku pulang kantor bosku kembali mengajakku berbincang-bincang. Hari itu aku mendapat rezeki besar karena ia mau meluangkan waktunya berbicara tentang hidup. Bahkan tak segan-segan ia memberiku pesan yang pantas kupikirkan buat langkah hidup kita selanjutnya.
"Erwan, kau masih muda, maka menjalani hidup ini harus tekun, walaupun pakai teken, nanti akan tekan juga." Ujarnya dalam logat Jawa yang kental seperti Soeharto.
Aku tak banyak berbicara. Kali itu sangat ingin aku mendengarnya berbicara banyak tentang diriku selama ia mengenalku.
"Kau hari ini berulang tahun. Bapak hanya berdoa semoga kau bahagia dalam hidup kelak. Kau orang berpotensi. Kau masih muda dan belum kawin. Bapak pikir sudah saatnya kau kawin agar kau tak terjerumus jadi demonstran. Kau punya potensi jadi demonstran yang dipercaya. Banyak orang yang ingin memanfaatkan kau kalau kau tak hati-hati. Mereka butuh demonstran yang bisa dipercaya orang awam dan orang politis. Jika kau tak segera kawin, kau akan terjerumus dan tak mendapatkan apa-apa seperti apa yang didapat orang-orang yang memanfaatkan kau. Kau tampak gelisah di mata Bapak, tetapi penampilan kau tenang, dan itulah potensi penting demostran kau. Barangkali kau tidak menyadarinya, tapi Bapak sudah berpuluh tahun berkenalan dengan orang-orang politis. Jika hidup kau ingin lebih berguna, maka sepantasnya kau segera memikirkan ucapanku untuk kawin agar hidupmu tenteram. Bawalah isterimu kemana pun kau pergi menjalani hidup ini. Sebab dengan isteri di samping kau, kau akan merasa tenteram dan hidupmu menjadi lebih berarti sesudah itu..."
Ade, sekali lagi matahari cintaku. Itu adalah ucapan terakhirnya yang membuatku terdiam dan berpikir sampai aku pulang dari kantor. Saat bosku berkata seperti itu, harus kuakui aku lantas berpikir tentang kamu, dan memang benar hanya kamu yang memberi ketenteraman selama kita dekat. Kamu ingatkan, bagaimana kita bisa tertawa dan menangis bersama, lalu kita berkali-kali memohonkan keinginan yang sama dalam hati kita pada saa kita berjamaah menghadap-Nya. Pasti kamu masih mengingatnya. Jadi, maukah juga kamu memikirkan kembali rencana kita untuk selalu berjamaah memohonkan keinginan kita semua kepada-Nya? Aku tunggu juga jawabanmu segera.

Ade, bunga cintaku. Tahukah kamu bahwa pada saat bosku mengusulkan aku segera menikah aku juga tiba-tiba ingat Mas Sarjon. Persahabatan yang lama dan berkesan membuatku bagai memiliki kakak lelaki saat bercerita sesuatu dengannya. Tahukah Ade, pada saat mudanya juga ia seorang yang gelisah sepertiku. Tapi ia lebih cerdik dariku. Terkadang aku mempelajari diam-diam kecerdikannya sampai aku berhasil memadukannya dengan kecerdikan yang kumiliki sendiri. Ia sudah menikah sekarang dan sedang menunggu kehadiran buah cintanya beberapa saat lagi. Aku ingat Mas Sarjon juga saat bosku berfatwa karena ia jugalah satu-satunya yang paling rajin mengingatkanku untuk segera menikah.
"Erwan, apalagi yang kau tunggu. Ayolah segera menikah. Bukankah menikah itu ibadah (ibadah yang paling nikmat, he-he sembari terkekeh). Erwan kan tahu, yang namanya ibadah itu harus disegerakan. Sebab sesudahnya ALLAH akan menyiapkan perangkatnya Jadi, apa lagi yang ditunggu. Apa yang dicemaskan?" begitu usulnya setiap kali ia bertemu aku dan mendengarkan "kisah Siti Nurbaya" yang kita alami. Lucunya, ia juga kerap mengganggu kerjaku dengan menelponku ke kantor sembari menggoda usulannya itu. Aku sering terkesiap jika ia sudah menggodaku demikian. Aku tak bisa berdebat dengannya karena ia benar. Bosku juga benar. Tapi kita juga rasanya benar karena kita punya rencana lain dan kisah-kisah lain yang tidak mereka alami. Itulah kebenaran kita.

Ade. Ya Humairaku, kemarin aku menerima surat dari ayahmu. Rupanya ia sangat bijaksana dan paham dengan kisah kita. Benar kata ayahmu pula saat ia bercerita bahwa nenek moyang kita pun (Nabi Adam dan Siti Hawa) dulu dipisahkan ke bumi berjauhan sementara Adam ke timur dan Hawa ke barat selama beratus tahun lamanya. Tapi dengan izin Allah pula dalam sekejap bertemu jugalah mereka sampai bahagia dan menurunkan generasi kita menghadapi kehidupan ini karena kehendak-Nya. Barangkali kita harus seperti nenek moyang kita, seperti juga orang-orang tua sebelum kita. Jadi, barangkali pula kita harus pula bersabar sejenak sambil berusaha mencapai rencana kita, membenarkan ucapan bosku suatu saat, membenarkan usulan Mas Sarjon suatu ketika, membenarkan harapan-harapan orang tua kita suatu waktu!

Ade, My Faithfully, aku cukupkan dulu suratku di sini. Namun,  kita selalu ingat pemeo menggelikan ini, "everything we do, we do it for you". Kamu pasti tersenyum membacanya Sekianlah, Salam, Your Faithfully So Much. Akang Erwan tea.

With Love,

EJ

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »