Hujan di Depan Teras


Hujan di Depan Teras


Dear You,

Pelangi masih bersembunyi di balik langit.
Mentari tertidur semu karena dinginnya hujan.
Para burung berhenti bersuara, karena mereka sadar akan kalah dengan gerutu awan gelap.

Aku duduk di depan rumah, merasakan tetesan air lembut menjatuhi wajah.
Dingin, sejuk lalu berubah menajadi hangat dan meliuk pelan jatuh melewati pori-pori wajah.
Membuatku tak sadar, sejak kapan kehadiran air lain yang bersumber entah  dari mana keluar begitu saja dari balik bola mata.
Aku ingat ini bersumber dari hatiku, kenangan atau lebih tepatnya, kusebut kenangan kita.

Cukup lama aku menunngu sebuah kepastian, kepastian yang menggantung di ujung awan di dekat perasaanku.
Apa masih kurang cukup semua pertanda yang telah aku beri.
Apa harus aku yang memberi kejelasan pada cerita kita?
Bukankah kau pemimpinnya.

Air yang keluar dari balik jiwaku semakin bertambah, saat mengingat kamu pergi dengan meninggalkan seuntai harapan tipis di balik senja.
Kamu pergi dengan dalih mengejar cita-cita.
Apa aku ini bukan bagian dari cita-citamu?

Apa kau sadar akankah benang harapan itu kuat hingga kau kembali?
Apa kau lupa dulu benang itu adalah kain yang mengikat kita?
Lalu berubah rapuh saat kamu mulai berkutat dengan angan-angan yang tak pasti.

Apa aku kurang nyata? Apa aku kurang pasti?

With Love,

YAIN

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »