Hanya Dianggap Adik

Hanya Dianggap Adik


Dear You,

Pada kertas putih kumulai goreskan tinta hitam ini, jari-jemariku saling beradu merangkai setiap kata demi kata untuk menafsirkan apa perasaan yang bergetar ini dan apa harapan yang aku simpan untukmu .

Aku diam bukan aku bisu.
Aku tertawa bukan aku bahagia.
Tapi aku hanya ingin kau lebih rasa.
Kode macam apalagi yang dapat membuatmu paham?


Karena itu aku hanya diam dengan perasaan yang perlahan membiru, getaran ini tak lagi berirama dan ucapanmu lewat pesan singkat itu tak lagi membuat hentakan kaki ini melayang di atas udara. Semuanya biru sang bagaskara pun enggan untuk bersinar lebih lama dan kembali pada peraduanya. Janji yang kau ucap hanya aku telan sendiri sakitnya. ”Kalau kita sudah terbang, ya terbang bareng-barenglah de,“ ucapanmu tak lagi aku mengerti ini apa dan dia siapa? Aku cuma kamu anggap dedek gemes kamu? Cuma karena aku beda dari cewek seumuran aku? Atau karena aku polos dan bisa kamu harkosin? Iya kamu hebat sia-siakan aku yang susah buat jatuh cinta dan jelas jelas punya harapan yang tinggi buat kamu.

Jadi semua cuma omong kosong belaka? Tidak ada kita kan? Cuma ada kamu, aku dan dia! Iya, kamu sekarang jadi alasan kenapa mata aku sembab ketika bangun tidur, kamu juga alasan kenapa aku malas makan, kamu juga alasan kenapa aku lebih suka dengerin lagu mellow dibanding dulu aku yang senyum tanpa rasa gundah gelisah dan harapan kosong ini.

Sekarang kamu terbang sama dia setelah kamu juga ajak aku terbang bersama? Maksudnya apa coba? Suka yah, dede gemesnya kamu ini yang terkenal susah jatuh cinta, susah nangis karena cinta, sekarang lemah? Udah puas? Kamu hebat yah, sudahlah terbang bersama dia yang mampu membuatmu bahagia, biar aku peluk bintang itu sendiri, aku mampu dan aku bisa.

With Love,

RI

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »