Gantung

Gantung


Dear You,

Wahai engkau yang hatinya kumiliki, cukup lama sudah aku menunggumu dalam sedihku, dalam rinduku, dan dalam tangisku tiap kali aku bersujud di kala malam. Kapankah kau akan kembali kepadaku? Sibukkah kau, wahai kekasihku? Sampai ribuan suratku pun tak juga kaubalas, bahkan mungkin tak sempat kaubaca.

Lupakah engkau dengan janjimu sendiri? Janji untuk aku kaubawa ke hadapan penghulu, mengumandangkan janji setia kita, sehidup semati, dunia akhirat di hadapan banyak orang. Karena lisanmu itu aku rela menolak banyak laki-laki yang hendak menjadikanku pendamping hidupnya, aku rela usiaku berjalan dengan mudahnya, sampai hampir memutih mahkotaku.

Lemas hatiku menunggu engkau, rapuh pikiranku mengingat engkau, habis dayaku melawan orang tuaku yang meminta supaya aku tak berharap lagi padamu. Tapi entahlah kekasihku, cintaku padamu masih juga tak berubah. Kini aku tumbuh sebagai perempuan yang hatinya engkau gantungkan selama bertahun-tahun, hingga musim berganti puluhan kali, hingga pemimpin berganti berkali-kali, hingga kemenakanku yang dulu pernah kau timang kini telah menjadi besar.

Sabar memang tak ada batasnya, kekasihku! Tapi umur ada batasnya. Kesabaranku mungkin tak sejalan dengan umurku. Aku memang sangat mencintai engkau, sampai ikhlas diriku bila disuruh menunggumu hingga usiaku menutup, tapi tidak jika aku kau gantungkan.

Aku butuh kepastian. Kepastian apakah boleh aku mencari pengganti daripada engkau, kepastian apakah boleh aku melupakan engkau dan melepaskan zinah yang telah kau pasangkan di jari manisku. Dengan datangnya surat ini padamu, aku memohon dengan teramat sangat balaslah suratku. Akan kutunggu satu bulan sejak kukirim surat ini untuk kaubalas. Lebih dari itu kuanggap kau telah mengikhlaskanku.

With Love,

SD

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »