Cinta dalam Perbedaan

Cinta dalam Perbedaan

Dear You,

Malam ini perasaanku sangat gundah. Entah dari mana aku harus mulai mengungkapkan perasaan yang tak karuan ini. Semua perasaan ini hadir begitu saja di tengah malam yang dinginnya menusuk tulang. Tuhan, tidakkah Kau mengerti apa yang berkecamuk jauh di dalam hati ini? Gelisah, cemas, cemburu, kecewa, patah hati, begitu lemah dan tidak berdayanya hati ini. Iman yang sudah tertanam kuat, seolah tak mampu menyelimuti kegusaran, seolah tak sebanding dengan perasaan menyakitkan ini.
 
Tuhan, tidakkan Engkau pernah berkata, bahwa Engkau tak pernah dan tak akan pernah memberikan ujian melebihi kesanggupan umat-Mu? Aku percaya bahwa tiap kali goncangan yang Kau tiupkan kepadaku pasti ada penangkalnya bukan? Pasti ada solusi atas semua kebuntuan ini. Tapi mengapa saat ini tidak kurasakan padaku? Rasa sakit, luka, kecewa dan perasaan menyedihkan serta memori kelam ini, mengapa seakan terus menerus melekat dalam hati mungil ini tanpa ada satupun obat yang begitu manjur untuk mengeringkan luka dalam ini?
 
Tuhan apakah ini hukuman-Mu untukku? Apa aku telah terlampau jauh dari singgasana-Mu? Hingga Kau menghukumku seberat ini, Tuhan sungguh aku tak mampu membendung rasa sakit ini sendirian. Aku butuh tangan-Mu yang merengkuhku. Tuhan, dengan seluruh air mata ini aku memohon kepada-Mu. Sembuhkanlah hatiku ini.
 
Tuhan, semua rasa sakit ini sejujurnyapun berasal dari kuasa-Mu. Kuasa-Mu yang begitu agung. Kuasa-Mu yang bernama cinta.
 
Tuhan, ketika aku kecil, aku tak begitu memahami apa gerangan kuasa-Mu yang bernama cinta itu. Perasaan yang baru kali ini aku pahami mampu membuat hamba-Mu bahagia. Namun juga mampu membuatnya menangis tersedu-sedu dan menderita sepanjang hayat. Tuhan, tapi apakah seberat dan sesakit ini cinta pertama yang telah Kau takdirkan untukku? Entahlah. Hanya Engkau yang tahu. Tapi aku percaya Tuhan, suatu saat akan datang kebahagiaan yang Engkau janjikan. Aku percaya Tuhan.
 
Tuhan, mungkin siapapun yang membaca suratku ini hampi hampir tak percaya akan apa yang aku ungkapkan. Tetapi inilah yang aku rasakan. Jadi maafkan apabila ungkapan ini terlampau berlebihan, aku hanya ingin mengungkapkan.
 
Tuhan, mungkin inilah rahasia-Mu. Dalam hidup, kita sengaja untuk dipertemukan dengan orang-orang yang salah, sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat yang telah Kau janjikan. Dan aku percaya bahwa dia yang telah Kau datangkan kepadaku, walau hanya sementara, adalah bagian dari suratan-Mu.
 
Aku bertemu dengannya yang telah Kau gariskan, untuk bertemu denganku di masa SMA-ku. Pada awalnya tak pernah terpikirkan bagiku bahwa pertemuan ini menjadi satu petaka yang tak pernah kuduga sebelumnya. Jika aku tahu semua akan terjadi, pasti aku akan mempermainkan sang waktu agar sebisa mungkin aku tak bertemu dengannya, agar tak ada air mata. Tapi nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi, tak ada satupun yang mampu mencegah pertemuanku dengannya, semua mengalir begitu saja. Hingga akhirnya sang waktu menunjukkan rahasianya. Tetapi aku percaya Tuhan, semua kan ada hikmahnya, ada pelajaran di balik semua hal yang terjadi di jagad raya ini. Semua telah terencana, semua ber-skenario. Dan aku menyadari Engkaulah pengatur skenario yang agung. Skenario-Mu adalah skenario terbaik yang pernah ada. Engkaulah sutradara terbaik dari yang terbaik,yang selalu membuat segalanya menjadi “Indah Pada Waktunya”. Begitu detail dan begitu terperinci Kau mengatur jagad raya ini, semua tertulis di Lauhil Mahfudz-Mu yang agung. Bahkan jatuhnya dedaunan dari rantingnya pun ada dalam Lauhil Mahfudz-Mu, sungguh indah kuasa-Mu itu.
 
Namun, ada satu yang tak pernah kumengerti sampai saat ini. Mengapa harus dia? Mengapa harus dia yang tertulis di lembar Lauhil Mahfudz-ku? Mengapa bukan orang lain saja tuhan? Mengapa? Aku butuh penjelasan-Mu.
 
Aku tak pernah mengerti mengapa Kau ciptakan perbedaan. Perbedaan yang sungguh kini kusadari sangat menyakitkan. Perbedaan yang semestinnya menimbulkan warna-warna indah, tetapi malah kini meleburkan luka dalam di hati kecil ini. Tuhan, mengapa kami begitu berbeda?
 
Sejujurnya hamba-Mu ini mencintai perbedaan. Mencintai ketidaksamaan yang melahirkan kesempurnaan berbagi, saling melengkapi. Perbedaan dalam cinta juga satu hal yang sangat luhur bagiku. Dua insan yang telah Tuhan titipkan di dalam-Nya perasaan saling mengasihi yang patut disyukuri. Tapi mengapa perbedaan yang ini sungguh menyakitkan Tuhan? Aku bahkan tak melihat sucinya cinta dalam cinta yang berbeda ini. Aku tak melihat indahnya kasih yang Engkau titipkan. Ataukah hatiku telah mati? Aku tak tahu Tuhan.
 
Tuhan, spakah ini yang Engkau inginkan untuk hidupku? Pertemuanku dengannya yang berakhir dengan perpisahan yang teramat menyakitkan. Tuhan, aku tahu Engkau pun maha pencemburu. Tapi tidakkah Engkau yang menanamkan rasa cinta ini kepadaku? Rasa cinta untuknya yang juga mencintai-Mu meski ia harus menyebut nama-Mu dengan sebutan yang berbeda? Tahukah Tuhan? Diapun mencintai-Mu. Tiada sedikitpun berkurang rasa cinta kami kepada-Mu meski hati kami juga membagi cinta ini untuk kami berdua? Apakah Kau cemburu? Tapi cinta ini siapa yang memberi jika bukan diri-Mu Tuhan?   
 
Tuhan, entah ungkapan hati seperti apa lagi yang harus kulontarkan. Keluhan, amarah, makian, tangisan, semua sudah kutuangkan dalam hari hari panjangku saat dia pergi meninggalkanku. Aku benci perbedaan ini, aku benci perbedaan di antara kita berdua. Semestinnya cinta memang menyatukan segala perbedaan. Tetapi perbedaan keyakinan ini sungguh menyakitkan meski kisah cinta seperti ini sudah sangat basi dan terlalu “basi” untuk didendangkan. Yah, tetapi inilah realitanya Tuhan.
 
Pertemuanku dengan seorang lelaki pemeluk Khatolik yang taat mengajarkanku tentang sisi lain kehidupan. Dan mengajariku satu hal yang sangat klasikal : Cinta tak bisa untuk memaksakan meskipun takdir dan garis tangan ini menandakan bahwa kami pernah saling mencintai. Kehadirannya mengajarkan kepadaku makna hidup yang berdampingan, saling menghargai. Tapi tidak untuk cinta, cinta ini tak bisa di logika dan rekayasa meskipun hati ini tak mampu berdusta jika ditanya soal perasaan. Tidak. Cinta ini tidak mengenal perbedaan agama. Perbedaan keyakinan, perbedaan Tuhan. Cinta ini tak mau menggubris saat bagaimana aku harus sholat di mushala dan saat hari ahad dia menjalankan misa di gereja Khatolik.
 
Cinta tak mengenal perbedaan ini. Cinta tak mau bertoleransi. Hingga cinta mempertemukan kami berdua dalam keadaan saling tak mempermasalahkan keyakinan ini. Sesuatu yang sangat kami pegang dengan teguh, namun akhirnya membuat jurang perbedaan ini begitu menyakitkan. Agama. Segala arogansi kami tentang agama siapa yang benar malah memudarkan sucinya cinta yang telah tuhan titipkan. Hari hari dimana Tuhan mempersatukan kami begitu kelam rasanya. Hanya cacian dan makian dari orang lain yang setia menemani kami yang meski sadar  jika “kami berbeda” namun kami tetap berusaha bersikukuh memperjuangkan ini semua entah sampai kapan.
 
Hingga sampai perpisahan ini tiba, semua terasa menyakitkan dan berbekas di hatiku. Betapa cemoohan yang kuterima dari ibu dan ayahnya yang tidak menyukai kehadiranku. Semenjak saat itu, aku tak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Persetan dengan cinta. Itu ujarku. Betapa semua perih, luka dan rasa sakit yang menyelimuti tanpa ada yang peduli. Serta bayangan dirinya yang sulit kuluputkan hingga berbulan lamanya. Apakah ini azab bagiku Tuhan? Cinta yang kurasakan kepadanya seperti meniti langkah di atas pecahan kaca. Semakin aku melangkah semakin sakit yang kurasakan dan hanyalah darah yang mengucur dan lebam di hati. Menyakitkan, sangat menyakitkan.
 
Tuhan, mengapa luka ini harus ada padaku? Masih kurangkah rasa cinta ini untuk-Mu? Hingga Kau hukum aku dengan luka ini? Apakah Engkau cemburu padaku yang telah mencintai lelaki itu dengan sepenuh hati hingga Kau kukesampingkan? Apakah itu yang membuat-Mu menghukumku karena Kau cemburu? Jika memang seperti itu, ampunkanlah diri ini Tuhan. Ampuni hamba-Mu yang berdosa ini yang menduakan diri-Mu dengan cinta dunia yang semu. Ampunkanlah aku yang tak mampu menjadi “kekasih-Mu” yang setia. Ampunkanlah diriku yang lalai bersyukur atas nikmat-Mu, melupakanmu, mengingkari-Mu
 
Ah, ampunkanlah diri ini Tuhanku. Ampunkanlah kehinaanku ya Tuhan.
 
Kini biarlah aku menerima hukuman ini, menerima sabda-Mu. Menerima apa yang harus aku terima. Aku memang pantas dihukum atas kelalaian ini. Aku terlalu mencintai apa yang tak pantas kucintai dan malah mengabaikan cinta terbesar yang ada dalam hidupku. Maafkan aku Tuhan.
 
Kini aku tak mengerti bagaimana aku harus akhiri surat ini. Namun satu yang pasti aku mencoba menjalani sisa hukuman yang Tuhan berikan kepadaku tanpa masa “penangguhan” sedikitpun. Aku berharap apa yang aku alami tak terjadi pada kalian dan orang-orang yang kukasihi.
 
Tuhan, kini cinta ini, cinta di dalam dada ini, sepenuhnya milik-Mu
Demi cintaku diatas sajadah ini aku bersujud
Di balik tasbih ini aku memuji-Mu
Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah
Terimalah cintaku Tuhan.

With Love,

DS

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »