Untukmu

Untukmu

Dear You,

Tak mungkin genap enam bulan lagi. Melihatnya terus bekerja seperti tak memiliki rasa pegal dan bosan makin membuatku sakit. Di sisi yang menguntungkan, aku yakin ia akan segera menggapai bintangnya. Tapi di sisi lain, dengan caranya yang membabi buta seperti itu, terkesan ia ingin cepat-cepat menghilang dariku. Segera lepas dariku. 

Kata-kata ‘aku memilikinya’ yang sering kuucapkan pada semua orang itu tak sepenuhnya seperti yang mereka duga selama ini. Aku sangat lancang bukan? Aku yang bukan siapa-siapa di matanya mengatakan hal demikian hingga membuat seantero sekolah gempar. Jujur, hanya saat melihatnya saja aku merasa akulah pemiliknya. Aku bahkan tak pernah menyangka akan berdampak sedemikian besarnya.
 
Setelah apa yang kulakukan dan membuat rumor nyeleneh itu membengkak di sekolah, aku tak bisa berbuat apa-apa. Dia yang kuinginkan menjadi salah satu bagian cerita hidupku, kini malah tak mau sama sekali bertemu denganku, ia selalu menghindar. Huft, bodohnya aku. Kenapa juga aku masih mengharapkan untuk mendapatkan seulas senyum miliknya padahal untuk menatapku sekilas saja dia tak mau?

Sekarang, waktu berjalan semakin cepat. Aku tak mampu mencegahnya untuk berhenti. Tak ada yang mampu kukerjakan kecuali melihat dan memberikan senyum seadaku untuknya yang sekarang makin membabi buta menggapai bintangnya.
 
Kupikir dia benar-benar ingin menjauhiku. Karena pernah, suatu ketika, aku mendapatinya masuk ruang kepala sekolah. Aku tak mampu mengendalikan tubuhku. Aku menguntitnya dan menangkap semua pembicaraanya. Aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya aku tak mengikutinya sampai sejauh ini. Aku lebih baik tak mendengarnya. Tapi terlanjur.
 
Dia bertanya pada kepala sekolah, kapan ujian nasional dilaksanakan? Sebagai pelajar yang baik, harusnya ia tahu sebelumnya. Tapi bukan seperti yang kuduga. Ia memaksa kepala sekolah untuk mengajukan usulan untuk mempercepat ujian. Dan alasan yang ia kemukakan adalah karena ia ingin menghindari seseorang secepatnya.
 
Ia tak menyebut siapa seseorang itu. Namun aku yakin itu aku. Ya, benar-benar aku. Seketika itu juga, aku merasa sekarat. Dan dengan alasan konyolnya itu, kepala sekolah malah memarahi dan mengusirnya. Siapa juga yang akan memperdulikan hal aneh seperti itu? Ia keluar dari ruangan kepala sekolah sambil mendengus. Di kepalanya seperti ada dua tanduk runcing. Ia mendapatiku berada di luar ruang kepala sekolah. Ia menatapku. Meski sekian lama aku ingin dia menatapku meski sedetik saja, tapi bukan tatapan seperti ini. Rasanya, ia seperti akan menerkam dan membunuhku. Aku takut. Sangat takut.

Sekarang, aku tak memiliki siapapun di sekolah. Semua orang memandang rendah aku dan kerap menyinggung masalah ini ketika berpapasan denganku. Apa sekarang aku sudah menjadi seorang penjahat? Ataukah monster? Entahlah. Yang pasti, aku sangat jelek di mata semua orang. Aku hanya ingin mengekspresikan rasaku. Tidak lebih dari itu. 

Apa aku salah saat aku mengucapkan hal itu? Apakah salah semua yang kulalukan? Apa aku tak boleh mencintai seseorang? 

Kau, iya kau. Kau yang mendapati surat ini. Kau yang dalam surat ini kualihkan menjadi ‘dia’. Kumohon jawablah. Karena mungkin aku tak bisa lagi berbicara denganmu. Jadi, kumohon.

With Love,

UT

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »