Rindu Tak Berujung

Rindu Tak Berujung


Dear You,

Apa kabar kamu di sana? Aku tak tahu apa yang harusnya aku tunjukkan padamu. Sudah satu tahun lebih, dari awal perkenalan kita. Tapi kamu masih terdiam di sana. Dengan kesederhanaan, kamu datang berdiri dan aku malah seolah tersihir untuk membuka pintu hati. Selalu kubuka pintu itu, namun kamu tak kunjung memasukinya. Hanya ada namamu yang berhasil melangkah ke dalam dan ia menjelajah setiap sisi ruang di dalamnya. Aku tak mampu mengusir nama itu. Dia begitu leluasa menempelkan banyak namamu di setiap sisi ruang hati.
 
Tahukah kamu sekarang nama itu telah berhasil mengukir sempurna menutupi semuanya disertai selipan kenangan. Aku sesekali ingin mencoba menghapusnya, tapi aku terlalu terpaku saat melihat dirimu yang masih berdiri di depan pintu itu. Aku membaca sinar matamu yang memberi penuh harapan untuk segera memasuki ruang hati ini. Tapi setiap kali aku menunggumu, kamu masih saja diam. Terkadang lelah menghampiri saat aku terus menatap teduh matamu. Segelintir kenangan manis yang kau beri mengalir deras dalam ingatanku, yang membangkit rindu dan mengusir bimbang.
 
Kau ada dan selalu ada. Kamu yang selalu ada dalam pikirku sebelum aku memejamkan mata sebelum terlelap. Kamu juga yang selalu aku harap muncul dalam setiap pesan diponselku. Tahukah kamu, aku selalu merasa bodoh untuk terus mengharapkan orang yang tak kunjung pasti akan menjadi bagian dari masa depanku. Terus mengharapkan agar dirimu secepatnya memasuki ruang hati.
 
Aku bingung bagaimana menjelaskan padamu kalau hatiku menerima perasaan yang menerobos masuk membawa namamu. Memasangkan namamu, dan semua ini membuat aku sesak. Namamu terlalu penuh berada di dalamnya, hingga akhirnya ia meloloskan diri untuk naik menjalar ke otakku. Menyerang setiap sel yang ada sehingga kini aku hampir selalu menghadirkan bayangmu dalam benakku. Entah apa yang sebenarnya kau ingini, menghampiri hidupku, menjadi bagiannya, namun tak pernah seutuhnya menjadi kisahku. 
Aku lelah dengan kisah ini. Aku lelah menanti lagi, mengharap kisah sempurna yang di dalamnya ada dirimu, menunggu terbukanya sebuah kisah kita. Kisah kita yang tak hanya sebuah pertemanan yang sudah terjalin setahun lebih, tapi ada perhatian lebih dalam dari itu. Aku bisa merasakannya, aku yakin kalau kita sama-sama menerima tamu yang membawa perasaan dan mengukir sebuah nama itu. 

Apakah kamu peka untuk mengetahuinya? Selama waktu ini, aku tak dapat mengizinkan nama lain memasuki relung hati ini lagi, semua sudah tak ada sisa untuk yang lain, hanya untukmu. Tapi mengapa dirimu masih belum juga berani mengungkapkan? Bagaimana caranya agar kamu juga mau menyadari bahwa kamu juga merasakan isi hati ini, melihat betapa penuhnya hati ini karena ulah perasaan yang membawa namamu. Bagaimana agar kamu mau menjelaskan apa yang kamu rasakan sama seperti yang aku rasakan? Aku pun tak berani jujur padamu, hanya untaian kata ini yang aku beri agar kamu merasakan penuh harapku. Salam rindu yang tak berujung.

The will love till end.

With Love,

EJ

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »